perkosa, enak, nikmat, jorok, porno, saru, kasar, gila,
adik, tente, ponakan, mama, papa, semua baik-baik saja, baik, sehat.
tetangga, teman, cewek, sma, lugu, gratis, banyak banget deh
gadis, janda, pembantu, tukang kebun, satpam, semua manusia lo.
2935 pengunjung hari ini.
tambah lagi nih:
enak, ooh..!!, aku jatuh. aku gak tahan, pegel nih berdiri terus. basah nik, ujan-ujanan.
liar banget nih imajinasi. masukin.. dong motornya... pelan-pelan dong jalannya...
kakak iparku orangnya baik. sepupuku banyak banget. kisah-kisah incest (inses) masa sih ada?
perawan. dijilat dong es krimnya.
bla.. bla.. bla..
susah banget sih mancing orang biar baca blog ini...
Sebab, Tak Semua Buku Sastra Tersedia di Toko Buku. Tak Semua Buku Sastra Sempat Diperbincangkan.Tak Semua Karya Sastra yang Bagus Bisa Mendapat Tempat.
Kami memiliki dua blog khusus untuk buku sastra, terutama buku-buku sastra yang tak ada di toko buku:
1. http://pustakapelabuhan.blogspot.com/ -berisi info2 buku sastra yang bisa dipesan langsung ke penulisnya. Anda bisa memberikan info buku2 sastra yang sedang terbit lewat dinding Indrian Koto atau Jualan Buku Sastra.
2. http://jualbukusastra.blogspot.com/ . Berisi daftar buku yang bisa dipesan kepada kami secara langsung. Anda bisa bekerjasama dengan kami dalam distribusi kecil-kecilan.
Pages
rubrik
- Buku alternatif (16)
- Buku Amal (2)
- Buku Puisi (35)
- buku sastra (5)
- Cerpen (28)
- display pustaka pelabuhan (16)
- e-book (2)
- Esai/Kritik (1)
- jurnal (3)
- lain-lain (3)
- Majalah (3)
- Novel (21)
- Saya dan Buku (7)
- Ulasan Buku (26)
Showing posts with label Saya dan Buku. Show all posts
Showing posts with label Saya dan Buku. Show all posts
Tuesday, October 28, 2008
Saturday, October 4, 2008
Katalog Buku Penerbit Akar Indonesia, Frame Publishing dan Carang Book
KATALOG Buku-buku
AKAR Indonesia, Carangbook dan Frame Publishing
AKAR Indonesia
1. Nyanyian Batanghari (Novel)
Pengarang : Hary B. Kori’un
Tebal : xx + 258
Ukuran : 14 x 20 cm
ISBN : 979-99838-0-0
Cetakan : I, Agustus 2005
Harga : Rp. 35.000
Sebuah novel yang sarat dengan ekspose peristiwa nyata, dipadukan dengan keliaran imajinasi, dalam ranah sejarah kontemporer Indonesia. Bercerita tentang seorang jurnalis bernama Martinus Amin yang menjalani pahit-getir perjuangannya sebagai aktivis bawah tanah. Berbagai gejolak sosial seperti kericuhan petani di Tongar, Pasaman, pembakaran kelapa sawit di Pangkalan Kerinci sampai peristiwa Mei 1998 dialami Martinus, yang membuatnya terpisah dari orang-orang yang mencintainya: Sari, Katrin, Sari!
Sastrawan Ahmad Tohari mengomentari buku ini sebagai berikut: ”Keberanian Hary B. Kori’un mendokumentasikan gerakan mahasiswa dan dampak kerusuhan Mei 1998 dalam novel ini, patut dihargai. Ditambah peristiwa-peristiwa penting lainnya yang terjadi di tanah air, dengan dilandasi riset yang cukup lengkap, membuat novel ini menjadi penting.Sangat menarik!”
2. Di Lengkung Alis Matamu (Kumpulan Puisi)
Pengarang : Johannes Sugianto
Pengantar : Joko Pinurbo
Tebal : x + 110
Ukuran : 13 x 20 cm
ISBN : 979-99839-3-2
Cetakan : I, November 2006
Harga : Rp. 20.000
Kumpulan puisi ini dapat dikatakan khas, setidaknya dilihat dari proses kelahirannya, yakni dari dunia maya. Penyairnya memang dikenal luas sebagai salah seorang aktivis sastra cyber, khususnya dalam blog www.blue4gie.com yang dikelolanya dengan intensif. Puisi-puisinya yang renyah, enak dinikmati, namun tanpa kehilangan contens sosialnya, menjadi garansi tersendiri untuk menyelusuri ranah kreatif Johannes. Untuk semua itu, penyair Joko Pinurbo merasa perlu menulis sepucuk surat yang disertakan sebagai kata pembuka dalam buku ini. Tulis Joko,”Jo, sajak-sajakmu seperti si bijak yang sedang membawakan renungan atau piwulang...”
3. Sebatang Ceri di Serambi (Kumpulan Cerpen)
Pengarang : Fakhrunnas MA Jabbar
Pengantar : Maman S. Mahayana
Penutup : Prof. Dr. Harry Aveling
Tebal : xxii + 168
Ukuran : 13 x 20 cm
Cetakan : I, November 2005
II, Juni 2007
ISBN : 979-9983-91-6
Penghargaan : Anugerah Sagang, 2006 dan 10 besar KLA
Harga : Rp. 27.000
4. Latopajoko dan Anjing Kasmaran (Kumpulan Cerpen)
Pengarang : Badaruddin Amir
Pengantar : Joni Ariadinata
Tebal : xii + 258 halaman
Ukuran : 13 x 20 cm
Cetakan : I, Februari 2007
ISBN : 979-998-382-7
Harga : Rp. 35.000
5. Karena Saya Ingin Berlari (Kumpulan Cerpen)
Pengarang : Kadek Sonia Piscayanti
Pengantar : Putu Wijaya
Tebal : xxiv + 176 halaman
Ukuran : 13 x 19,5 cm
Cetakan : I, Maret 2007
ISBN : 979-99839-5-9
Harga : Rp. 30.000
6. Para Pecinta Selat Phillips (Kumpulan Cerpen)
Pengarang : Hasan Aspahani, Samson Rambah Pasir, Ramon Damora, dkk.
Tebal : 144 halaman
Ukuran : 13 x 19,5 cm
ISBN : 979-998390-8
Cetakan : I, Maret 2007
Harga : Rp. 22.000
7. Hujan Meminang Badai (Kumpulan Puisi)
Pengarang : Tri Astoto Kodarie
Pengantar : Maman S. Mahayana
Tebal : xxviii + 124 halaman
Ukuran : 13 x 19,5 cm
Cetakan : I, Maret 2007
ISBN : 979-9983-88-6
Harga : Rp. 20.000
8. Emas Sebesar Kuda (Kumpulan Cerpen)
Pengarang : Ode Barta Ananda
Tebal : xii + 172 halaman
Ukuran : 13 x 19,5 cm
Cetakan : I, Oktober 2007
ISBN : 979-1684-81-2
Harga : Rp. 28.000
9. Penunggang Kuda Negeri Malam (Kumpulan Puisi)
Pengarang : Ahda Imran
Kata pembuka : Miranda Risang Ayu
Kata penutup : I Bambang Sugiharto
Tebal : 148 halaman
Ukuran : 13 x 19,5 cm
ISBN : 978-979-1684-82-0
Jumlah : 700 eksmplar
Harga : Rp. 30.000
Buku kumpulan puisi tunggal perdana Ahda Imran ini berisi 70 sajak terpilih periode 1995-2008 atau sekitar 13 tahun proses kepenyairannya. Selain menyair, Ahda dikenal luas sebagai penulis tetap rubrik seni budaya (”Khazanah”) di Harian Pikiran Rakyat, Bandung. Liputannya tentang seni pertunjukan, pameran lukisan dan fenomena kebudayaan yang muncul saban pekan, meninggalkan jejak tersendiri dalam penciptaan. Ada persentuhannya yang khas dengan realitas, dan diterjemahkan kembali lewat pencandraan interpretasi dan renungan. Jadilah persoalan sosial di sekitar menyusup halus dan menghanyutkan. Ibarat penunggang kuda di negeri yang selalu malam (gelap), Ahda bersaksi sekaligus mendedahkan kesaksiannya itu kepada kita.
I Bambang Sugiharto mengakui, membaca puisi Ahda adalah membaca realita sebagai suasana, suasana kecemasan yang panjang dan mencekam: menatap wajah dengan “seekor anjing bermata satu mengintai dari bayang di genang air tenang” (puisi “Penghujung Tahun”). Dalam melukiskan kecemasan itu, puisi-puisi Ahda adalah imaji-imaji yang tepat, padat dan kuat. “Sesuatu sedang terjadi”, katanya, “Bayi-bayi lahir dengan lidah bersisik, dan ibu mereka adalah burung-burung gagak”.
Sementara Miranda Risang Ayu, seorang ibu rumah tangga di Bandung, yang didaulat memberi semacam kata pengantar menyatakan bahwa ia menemukan proses, aneka peristiwa dan kesunyian dalam buku ini. Semua itu memberi kekuatan untuk mencerna realitas di sekitarnya.
Buku ini kian menarik lantaran dihiasi drawing sejumlah pelukis tenar kota Bandung yang khusus dibuat untuk merespon puisi-puisi Ahda. Mereka adalah Tisna Sanjaya, Isa Perkasa dan Diyanto. Sementara desain cover dikerjakan oleh Sunaryo. **
Jurnal Cerpen Indonesia
ISSN: 1978-3175
10. Matinya Seorang Guru Mengaji (Jurnal Cerpen # 07/2007)
Pengarang : Dwi Cipta, Gunawan Maryanto, Raudal Tanjung Banua, Riki Dhamparan
Putra, Gde Aryantha Soethama, Katrin Bandel, dll.
Tebal : 250 halaman
Ukuran : 14 x 21 cm
Harga : Rp. 35.000
11. Membicarakan Cerpen Indonesia (Jurnal Cerpen #08, edisi khusus Kongres Cerpen)
Pengarang : Afrizal Malna, Agus R. Sarjono, Agus Noor, Ahmad Tohari, Taufik
Ikram Jamil, Ahmadun Y. Herfanda, Saut Situmorang, dll.
Tebal : xxxvii + 393
Ukuran : 14 x 21 cm
Harga : Rp. 55.000
12. Ratusan Mata di Mana-mana (Jurnal Cerpen # 09/2008)
Pengarang : Frans Nadjira, Martin Aleida, Yanusa Nugroho, Zulkarnaen Ishak,
Kiswondo, Shiho Sawai, dll.
Tebal : XVIII + 182 halaman
Ukuran : 14 x 21 cm
Jumlah : 600 eksmplar
Harga : Rp. 38.000
Jurnal Cerpen Indonesia (JCI) terbit sejak tahun 2002, bersamaan dengan berlangsungnya Kongres Cerpen Indonesia di berbagai kota di Indonesia secara rutin. JCI digawangi oleh Ahmad Tohari, Bakdi Soemanto, Maman S. Mahayana, Joni Ariadinata dan Raudal Tanjung Banua.
JCI edisi 09 boleh dikatakan edisi “ideal” sebab memuat cerita pendek dan esei relatif seimbang. Ada 7 cerpen dengan berbagai gaya dan tema. Ada yang kontemplatif, liris, dan ada pula yang berbentuk memoar. Para penulis cerpen edisi ini adalah Frans Nadjira, Martin Aleida, Mezra E. Pellondou, Gde Agung Lontar, Fahrudin Nasrulloh, Hery Sudiono, Yanusa Nugroho dan Zulkarnaen Ishak. Sementara itu, ada tiga esei yang bertolak dari akar persoalan yang relatif sama, yakni jejak konflik, seperti Harris Effendi Thahar yang menulis konflik PRRI dalam cerpen-cerpen Soewardi Idris; Kiswondo meneliti konflik 1965 dalam empat cerpen Indonesia dan Shiho Sawai yang menulis konflik pasca-kolonial dalam cerpen-cerpen perempuan buruh migran di Hongkong.**
CarangBook:
13. Sepasang Sepatu Sendiri dalam Hujan (Kumpulan Puisi)
Pengarang : Maulana Achmad, Inez Dikara, Dedy T. Riyadi
Penyunting : T.S. Pinang
Pengantar : Hasan Aspahani
Tebal : xx + 118 halaman
Ukuran : 13,5 x 20 cm
Harga : Rp. 27.000
Buku ini merupakan kumpulan puisi bertiga dari penyair aktivis bungamatahari, sebuah kelompok milis yang cukup populer di Jakarta dan dunia maya umumnya. Disunting dan diberi pengantar juga oleh dua sosok yang sudah lama malang-melintang di dunia cyber, yakni T.S. Pinang dan Hasan Aspahani.
Akmal Nasery Basral, jurnalis dan penulis, memberi komentar bahwa buku ini bukanlah sebuah karnaval kata-kata, meski digarap tiga kepala. Ketiga penyair justru berlomba memurnikan diri melalui gorong-gorong diksi, sebelum akhirnya bertemu kembali di dunia sunyi. **
Frame Publishing:
14. Rumah Hujan (Kumpulan Puisi)
Pengarang : Budy Utamy
Pengantar : Hasan Junus
Tebal : 101 halaman
Ukuran : 13 x 19,5 cm
Cetakan : I, Maret 2008
ISBN : 978-979-168491-x
Harga : Rp. 22.000
15. Loge (Novelet)
Pengarang : Mezra E. Pollandou
Tebal : 80 halaman
Ukuran : 12 x 18 cm
Cetakan : I, April 2008
ISBN : 979-168492-8
Harga : Rp. 15.000
16. Nama Saya Tawwe Kabota (Novelet)
Pengarang : Mezra E. Pollandou
Tebal : 120 halaman
Ukuran : 12 x 18 cm
Cetakan : I, Mei 2008
ISBN : 978-979-168494-4
Harga : Rp. 23.000
Nama Saya Tawwe Kabota merupakan kisah yang unik dari timur tanah air. Bersetting Tanah Sumba dengan padang-padang prairi, kuda, batu, madu dan tradisi Merapu, kisah terjalin lincah antara Kalli yang tegar dengan Bullu yang modern. Meski modern, toh Kalli memilih melakukan ritual suci, tawwe kabota, sebuah ritual tradisi Sumba untuk menyucikan aib. Persoalannya, semua itu dilakukan Bullu bukan lantaran ingin menikahi Kalli, orang yang dihamilinya, tetapi memilih menikahi gadis lain yang lugu dan sederhana, Ghole. Pada Ghole cinta sejati Bulu berlabuh, meski di sisi lain ia tak bisa lepas dari bayang-bayang Kalli. Pergulatan batin dengan segala kelok-likunya terus membayangi Bulu, sampai akhirnya ia bertemu seorang perempuan muda bernama Tawwe Kabota. Ternyata itulah anak yang dulu dikandung Kalli, dan nyaris terlupakan dalam hidup Bulu. **
17. Pesta Hujan di Mata Shinta (Kumpulan Cerpen)
Pengarang : Iqbal Baraas
Tebal : 138 halaman
Ukuran : 13 x 19,5 cm
Jumlah : 400 eksmplar
Harga : Rp. 25.000
Berisi 12 cerpen Iqbal Baraas, dari rentang waktu hampir 10 (sepuluh) tahun. Di tengah kecenderungan cerpen yang mengalun liris, Iqbal memilih ungkapan yang lugas sebagai sebuah ciri khas. Ceritanya melingkar dan tak tertebak akhirnya. Ia memasang ranjau pada setiap bagian ceritanya, dan dengan lihai membelokkannya jauh pada peristiwa lain. Berbagai tema direngkuhnya, mulai dari percintaan yang banal, romantika kehidupan wong cilik dan soal-soal personal seperti kehidupan rumah tangga. Gaya berceritanya yang mengalir, memadukan realitas dengan absurdisme, membawa kita ke wilayah ”dongeng modern” yang tanpa batas, mengingatkan pada mistisme Jawa ala Danarto dan teror menghentak ala Putu Wijaya.**
AKAR Indonesia, Carangbook dan Frame Publishing
AKAR Indonesia
1. Nyanyian Batanghari (Novel)
Pengarang : Hary B. Kori’un
Tebal : xx + 258
Ukuran : 14 x 20 cm
ISBN : 979-99838-0-0
Cetakan : I, Agustus 2005
Harga : Rp. 35.000
Sebuah novel yang sarat dengan ekspose peristiwa nyata, dipadukan dengan keliaran imajinasi, dalam ranah sejarah kontemporer Indonesia. Bercerita tentang seorang jurnalis bernama Martinus Amin yang menjalani pahit-getir perjuangannya sebagai aktivis bawah tanah. Berbagai gejolak sosial seperti kericuhan petani di Tongar, Pasaman, pembakaran kelapa sawit di Pangkalan Kerinci sampai peristiwa Mei 1998 dialami Martinus, yang membuatnya terpisah dari orang-orang yang mencintainya: Sari, Katrin, Sari!
Sastrawan Ahmad Tohari mengomentari buku ini sebagai berikut: ”Keberanian Hary B. Kori’un mendokumentasikan gerakan mahasiswa dan dampak kerusuhan Mei 1998 dalam novel ini, patut dihargai. Ditambah peristiwa-peristiwa penting lainnya yang terjadi di tanah air, dengan dilandasi riset yang cukup lengkap, membuat novel ini menjadi penting.Sangat menarik!”
2. Di Lengkung Alis Matamu (Kumpulan Puisi)
Pengarang : Johannes Sugianto
Pengantar : Joko Pinurbo
Tebal : x + 110
Ukuran : 13 x 20 cm
ISBN : 979-99839-3-2
Cetakan : I, November 2006
Harga : Rp. 20.000
Kumpulan puisi ini dapat dikatakan khas, setidaknya dilihat dari proses kelahirannya, yakni dari dunia maya. Penyairnya memang dikenal luas sebagai salah seorang aktivis sastra cyber, khususnya dalam blog www.blue4gie.com yang dikelolanya dengan intensif. Puisi-puisinya yang renyah, enak dinikmati, namun tanpa kehilangan contens sosialnya, menjadi garansi tersendiri untuk menyelusuri ranah kreatif Johannes. Untuk semua itu, penyair Joko Pinurbo merasa perlu menulis sepucuk surat yang disertakan sebagai kata pembuka dalam buku ini. Tulis Joko,”Jo, sajak-sajakmu seperti si bijak yang sedang membawakan renungan atau piwulang...”
3. Sebatang Ceri di Serambi (Kumpulan Cerpen)
Pengarang : Fakhrunnas MA Jabbar
Pengantar : Maman S. Mahayana
Penutup : Prof. Dr. Harry Aveling
Tebal : xxii + 168
Ukuran : 13 x 20 cm
Cetakan : I, November 2005
II, Juni 2007
ISBN : 979-9983-91-6
Penghargaan : Anugerah Sagang, 2006 dan 10 besar KLA
Harga : Rp. 27.000
4. Latopajoko dan Anjing Kasmaran (Kumpulan Cerpen)
Pengarang : Badaruddin Amir
Pengantar : Joni Ariadinata
Tebal : xii + 258 halaman
Ukuran : 13 x 20 cm
Cetakan : I, Februari 2007
ISBN : 979-998-382-7
Harga : Rp. 35.000
5. Karena Saya Ingin Berlari (Kumpulan Cerpen)
Pengarang : Kadek Sonia Piscayanti
Pengantar : Putu Wijaya
Tebal : xxiv + 176 halaman
Ukuran : 13 x 19,5 cm
Cetakan : I, Maret 2007
ISBN : 979-99839-5-9
Harga : Rp. 30.000
6. Para Pecinta Selat Phillips (Kumpulan Cerpen)
Pengarang : Hasan Aspahani, Samson Rambah Pasir, Ramon Damora, dkk.
Tebal : 144 halaman
Ukuran : 13 x 19,5 cm
ISBN : 979-998390-8
Cetakan : I, Maret 2007
Harga : Rp. 22.000
7. Hujan Meminang Badai (Kumpulan Puisi)
Pengarang : Tri Astoto Kodarie
Pengantar : Maman S. Mahayana
Tebal : xxviii + 124 halaman
Ukuran : 13 x 19,5 cm
Cetakan : I, Maret 2007
ISBN : 979-9983-88-6
Harga : Rp. 20.000
8. Emas Sebesar Kuda (Kumpulan Cerpen)
Pengarang : Ode Barta Ananda
Tebal : xii + 172 halaman
Ukuran : 13 x 19,5 cm
Cetakan : I, Oktober 2007
ISBN : 979-1684-81-2
Harga : Rp. 28.000
9. Penunggang Kuda Negeri Malam (Kumpulan Puisi)
Pengarang : Ahda Imran
Kata pembuka : Miranda Risang Ayu
Kata penutup : I Bambang Sugiharto
Tebal : 148 halaman
Ukuran : 13 x 19,5 cm
ISBN : 978-979-1684-82-0
Jumlah : 700 eksmplar
Harga : Rp. 30.000
Buku kumpulan puisi tunggal perdana Ahda Imran ini berisi 70 sajak terpilih periode 1995-2008 atau sekitar 13 tahun proses kepenyairannya. Selain menyair, Ahda dikenal luas sebagai penulis tetap rubrik seni budaya (”Khazanah”) di Harian Pikiran Rakyat, Bandung. Liputannya tentang seni pertunjukan, pameran lukisan dan fenomena kebudayaan yang muncul saban pekan, meninggalkan jejak tersendiri dalam penciptaan. Ada persentuhannya yang khas dengan realitas, dan diterjemahkan kembali lewat pencandraan interpretasi dan renungan. Jadilah persoalan sosial di sekitar menyusup halus dan menghanyutkan. Ibarat penunggang kuda di negeri yang selalu malam (gelap), Ahda bersaksi sekaligus mendedahkan kesaksiannya itu kepada kita.
I Bambang Sugiharto mengakui, membaca puisi Ahda adalah membaca realita sebagai suasana, suasana kecemasan yang panjang dan mencekam: menatap wajah dengan “seekor anjing bermata satu mengintai dari bayang di genang air tenang” (puisi “Penghujung Tahun”). Dalam melukiskan kecemasan itu, puisi-puisi Ahda adalah imaji-imaji yang tepat, padat dan kuat. “Sesuatu sedang terjadi”, katanya, “Bayi-bayi lahir dengan lidah bersisik, dan ibu mereka adalah burung-burung gagak”.
Sementara Miranda Risang Ayu, seorang ibu rumah tangga di Bandung, yang didaulat memberi semacam kata pengantar menyatakan bahwa ia menemukan proses, aneka peristiwa dan kesunyian dalam buku ini. Semua itu memberi kekuatan untuk mencerna realitas di sekitarnya.
Buku ini kian menarik lantaran dihiasi drawing sejumlah pelukis tenar kota Bandung yang khusus dibuat untuk merespon puisi-puisi Ahda. Mereka adalah Tisna Sanjaya, Isa Perkasa dan Diyanto. Sementara desain cover dikerjakan oleh Sunaryo. **
Jurnal Cerpen Indonesia
ISSN: 1978-3175
10. Matinya Seorang Guru Mengaji (Jurnal Cerpen # 07/2007)
Pengarang : Dwi Cipta, Gunawan Maryanto, Raudal Tanjung Banua, Riki Dhamparan
Putra, Gde Aryantha Soethama, Katrin Bandel, dll.
Tebal : 250 halaman
Ukuran : 14 x 21 cm
Harga : Rp. 35.000
11. Membicarakan Cerpen Indonesia (Jurnal Cerpen #08, edisi khusus Kongres Cerpen)
Pengarang : Afrizal Malna, Agus R. Sarjono, Agus Noor, Ahmad Tohari, Taufik
Ikram Jamil, Ahmadun Y. Herfanda, Saut Situmorang, dll.
Tebal : xxxvii + 393
Ukuran : 14 x 21 cm
Harga : Rp. 55.000
12. Ratusan Mata di Mana-mana (Jurnal Cerpen # 09/2008)
Pengarang : Frans Nadjira, Martin Aleida, Yanusa Nugroho, Zulkarnaen Ishak,
Kiswondo, Shiho Sawai, dll.
Tebal : XVIII + 182 halaman
Ukuran : 14 x 21 cm
Jumlah : 600 eksmplar
Harga : Rp. 38.000
Jurnal Cerpen Indonesia (JCI) terbit sejak tahun 2002, bersamaan dengan berlangsungnya Kongres Cerpen Indonesia di berbagai kota di Indonesia secara rutin. JCI digawangi oleh Ahmad Tohari, Bakdi Soemanto, Maman S. Mahayana, Joni Ariadinata dan Raudal Tanjung Banua.
JCI edisi 09 boleh dikatakan edisi “ideal” sebab memuat cerita pendek dan esei relatif seimbang. Ada 7 cerpen dengan berbagai gaya dan tema. Ada yang kontemplatif, liris, dan ada pula yang berbentuk memoar. Para penulis cerpen edisi ini adalah Frans Nadjira, Martin Aleida, Mezra E. Pellondou, Gde Agung Lontar, Fahrudin Nasrulloh, Hery Sudiono, Yanusa Nugroho dan Zulkarnaen Ishak. Sementara itu, ada tiga esei yang bertolak dari akar persoalan yang relatif sama, yakni jejak konflik, seperti Harris Effendi Thahar yang menulis konflik PRRI dalam cerpen-cerpen Soewardi Idris; Kiswondo meneliti konflik 1965 dalam empat cerpen Indonesia dan Shiho Sawai yang menulis konflik pasca-kolonial dalam cerpen-cerpen perempuan buruh migran di Hongkong.**
CarangBook:
13. Sepasang Sepatu Sendiri dalam Hujan (Kumpulan Puisi)
Pengarang : Maulana Achmad, Inez Dikara, Dedy T. Riyadi
Penyunting : T.S. Pinang
Pengantar : Hasan Aspahani
Tebal : xx + 118 halaman
Ukuran : 13,5 x 20 cm
Harga : Rp. 27.000
Buku ini merupakan kumpulan puisi bertiga dari penyair aktivis bungamatahari, sebuah kelompok milis yang cukup populer di Jakarta dan dunia maya umumnya. Disunting dan diberi pengantar juga oleh dua sosok yang sudah lama malang-melintang di dunia cyber, yakni T.S. Pinang dan Hasan Aspahani.
Akmal Nasery Basral, jurnalis dan penulis, memberi komentar bahwa buku ini bukanlah sebuah karnaval kata-kata, meski digarap tiga kepala. Ketiga penyair justru berlomba memurnikan diri melalui gorong-gorong diksi, sebelum akhirnya bertemu kembali di dunia sunyi. **
Frame Publishing:
14. Rumah Hujan (Kumpulan Puisi)
Pengarang : Budy Utamy
Pengantar : Hasan Junus
Tebal : 101 halaman
Ukuran : 13 x 19,5 cm
Cetakan : I, Maret 2008
ISBN : 978-979-168491-x
Harga : Rp. 22.000
15. Loge (Novelet)
Pengarang : Mezra E. Pollandou
Tebal : 80 halaman
Ukuran : 12 x 18 cm
Cetakan : I, April 2008
ISBN : 979-168492-8
Harga : Rp. 15.000
16. Nama Saya Tawwe Kabota (Novelet)
Pengarang : Mezra E. Pollandou
Tebal : 120 halaman
Ukuran : 12 x 18 cm
Cetakan : I, Mei 2008
ISBN : 978-979-168494-4
Harga : Rp. 23.000
Nama Saya Tawwe Kabota merupakan kisah yang unik dari timur tanah air. Bersetting Tanah Sumba dengan padang-padang prairi, kuda, batu, madu dan tradisi Merapu, kisah terjalin lincah antara Kalli yang tegar dengan Bullu yang modern. Meski modern, toh Kalli memilih melakukan ritual suci, tawwe kabota, sebuah ritual tradisi Sumba untuk menyucikan aib. Persoalannya, semua itu dilakukan Bullu bukan lantaran ingin menikahi Kalli, orang yang dihamilinya, tetapi memilih menikahi gadis lain yang lugu dan sederhana, Ghole. Pada Ghole cinta sejati Bulu berlabuh, meski di sisi lain ia tak bisa lepas dari bayang-bayang Kalli. Pergulatan batin dengan segala kelok-likunya terus membayangi Bulu, sampai akhirnya ia bertemu seorang perempuan muda bernama Tawwe Kabota. Ternyata itulah anak yang dulu dikandung Kalli, dan nyaris terlupakan dalam hidup Bulu. **
17. Pesta Hujan di Mata Shinta (Kumpulan Cerpen)
Pengarang : Iqbal Baraas
Tebal : 138 halaman
Ukuran : 13 x 19,5 cm
Jumlah : 400 eksmplar
Harga : Rp. 25.000
Berisi 12 cerpen Iqbal Baraas, dari rentang waktu hampir 10 (sepuluh) tahun. Di tengah kecenderungan cerpen yang mengalun liris, Iqbal memilih ungkapan yang lugas sebagai sebuah ciri khas. Ceritanya melingkar dan tak tertebak akhirnya. Ia memasang ranjau pada setiap bagian ceritanya, dan dengan lihai membelokkannya jauh pada peristiwa lain. Berbagai tema direngkuhnya, mulai dari percintaan yang banal, romantika kehidupan wong cilik dan soal-soal personal seperti kehidupan rumah tangga. Gaya berceritanya yang mengalir, memadukan realitas dengan absurdisme, membawa kita ke wilayah ”dongeng modern” yang tanpa batas, mengingatkan pada mistisme Jawa ala Danarto dan teror menghentak ala Putu Wijaya.**
Monday, August 25, 2008
Buku dari Akar Indonesia
Dapatkan Buku-buku Akar Indonesia yang lain.
Penunggang Kuda Negeri Malam
Kumpulan Sajak
Penulis : Ahda Imran
Tebal :148 halaman
Penerbit : Akar Indonesia
Harga : 30.000

Kumpulan sajak Ahda Imran yang ditulis dalam periode tiga belas tahun, sejak 1995-2008 yang berisi tujuh puluh sajak yang dibagi dalam menjadi beberapa fragmen. Catatan pembuka ditulis oleh Miranda Risang Ayu dan diberi penutup oleh Bambang Sugiharto. Antologi puisi ini juga diwarnai sketsa oleh Tisna Sanjaya, Isa Perkasa dan Diyanto yang mencoba memfisualisasikan beberapa puisi Ahda did alam antologi ini. sebuah ilustrasi yanggg mencoba menguatkan ketegasan puisim, meski sesungguhnya mereka tetaplah membahasakan diri nya masing-masing.
Penunggang Kuda Negeri Malam
Kumpulan Sajak
Penulis : Ahda Imran
Tebal :148 halaman
Penerbit : Akar Indonesia
Harga : 30.000
Kumpulan sajak Ahda Imran yang ditulis dalam periode tiga belas tahun, sejak 1995-2008 yang berisi tujuh puluh sajak yang dibagi dalam menjadi beberapa fragmen. Catatan pembuka ditulis oleh Miranda Risang Ayu dan diberi penutup oleh Bambang Sugiharto. Antologi puisi ini juga diwarnai sketsa oleh Tisna Sanjaya, Isa Perkasa dan Diyanto yang mencoba memfisualisasikan beberapa puisi Ahda did alam antologi ini. sebuah ilustrasi yanggg mencoba menguatkan ketegasan puisim, meski sesungguhnya mereka tetaplah membahasakan diri nya masing-masing.
Tampilan Cover yang kukup bagus dan sunyi digarap oleh Sunaryo. Dalam puisi ini bertebaran kata-kata tentang arloji, “memandang dan melupakan” kota-kota tua dan rapuh, percakapan sunyi aku-kau. Unik dan menarik, di mana sebuah kota, dalam imaji Ahda bukanlah kota yang riuh, melainkan “kota yang letih di mana orang-orangnya terlihat tua dan letihd negtan hobi meludah, menggerutu atau m,enggaruk kelamin. Sebuah ironi dan membuat kita merasa dicekam kesunyian.
Pesta Hujan di Mata Shinta
Kumpulan Cerpen
Penulis : Iqbal Baraas
Tebal :138 halaman
Penerbit : Frame Publishing
Harga : 25.000
Kumpulan cerpen dari penulis asal bayuwangi ini memiliki kekhasan dalam bercerita. Dia adalah seorang pendongeng yang nyentrik. Cerpen-cerpennya sarat dengan dialog. Ia mengatur cerita sedemikian rupa, di mana kita sebagai pembaca akan terkecoh oleh alur yang dia bikin mengambang dan unik. Tak tertebak. Dia menarik imajinasi kita pada penyelesaian, tetapi pada titik tertentu dia akan membelokkan cerita sedemikian rupa.
Buku yang menarik ditengah keriuhan nama-nama mentereng dan publisitas dan akses yang besar. seorang Iqbal berteriak dari sebuah titik tentang banyak hal; menyuarakan perlawanan. Perlawanan pada banyak hal, pada apa pun, bahkan pada perihal yang sudah wajar sekalipun. Buku ini akan menawarkan sesuatu yang lain, yang tak terduga ssebelumnya.
Percayalah.
__________________
Loge
Sebuah Novel(et)
Penulis :Mezra E. Pellondou
Tebal : 80 halaman
Penerbit : Frame Publishing
Hasrga : 15. 000
Dongeng dari Timor. Barangkali kita hanya memahami NTT, lewat catatan perjalanan dan buku-buku pariwisata. Kesenian dan ritual masyarakat setempat yang terdapat dalam bursa pariwisata. Dan kita sekedar menikmatinya sebagai bentuk eksotisme dari keberagaman budaya kita.
Tetapi segala sesuatu punya cerita. Dan Loge, dalam novel pendek ini, yang berangkat dari tradisi Pasola, sebuah pesta adat masyarakat Sumba, mengalun setajam lembing batu dan mengalun bagai mantra. Sebuah ketidakterdugaan menunggu anda dan jebakan-jebakan peristiwa membuat kita tidak akan berhenti mengikutinya sampai cerita ini berakhir.
Berangkat dari kepercayaan Perapuh, kisah cinta yang unik dan berlipat, intik keluarga dan kekuasaan, incest hingga membicarakan keperawanan dari perspektif kepercayaan. Cerita ini mengambil sudut perempuan, sebagai objek yang lebih banyak (meng)kalahkan dirinya. tetapi pada puncaknya, perempuan pun memiliki kekuatan yang lauar biasa dan mengejutkan. Dan di titik ini, saya atau pun anda akan dikejutkan oleh kejelian Mezra dalam mengatur alur, plot dan tempo ceritanya.
Sebuah permata yang berkilau dari Timur yang akhir-akhir ini tak banyak kita temukan. Inilah salah satu karya yang --meskipun pendek—mampu memikat anda untuk berdebar dan penasaran.
Lalu apakah itu Loge? Untuk menyebut apakah nama ini digunakan? Saya rasa ini pun akan mampu membuat anda terkaget-kaget. Sumpah!
______________________________
Mata Air Akan Pohon
Kumpulan Sajak
Penulis : Nur Wahida Idris
Tebal : 99 halaman
Penerbit : [SIC]
Harga : 23.000
Mata Air Akan Pohon
Kumpulan Sajak
Penulis : Nur Wahida Idris
Tebal : 99 halaman
Penerbit : [SIC]
Harga : 23.000
Kumpulan ini berisi 56 sajak terpilih Nur Wahida sejak masa awal kepenulisannya hingga hari ini. selama 14 tahun periode kepenulsiannya. kita akan menemukan suara lain dari seorang perempuan yang tampak tidak cengeng dan tidak pula sok tegar dalam banyak peristiwa. Ia menggambarkan kegamangan dari sudut yang lain. Perempuan sekaligus istri. Dalam kumpulan ini ia menyuarakan banyak hal sekaligus dan tidak berlarut-larut dalam wacana keperempuanannya dan untuk tak terjebak dalam wacana di seputar itu.
Ia menulis banyak persoalan yang nyaris tak tersentuh. Tidak dalam melankoli patah hati, kekasih yang berhianat, perempuan yang tertindas dan upaya perlawanan yang berdarah-darah. “Perempuan justru lebih akrab denan pisau dan darah,” katanya. Dan itu barangkali yang membuatnya tidak lantas menjadi cengeng dan terjebak pada kesedihan-kesedihan klasik.
Ia bersuara dengan bahasanya sendiri.
Untuk pemesanan buku-buku diatas dan terbitan Akar lainnya bisa melalui kontak 08122729237
Wednesday, January 23, 2008
Temu Sastra Tiga Kota, Lebih Dari Sekedar Silaturahmi
Sastra pada dasarnya tidak mengenal tempat untuk lahir. Ia bisa hadir di tengah hingar-bingar kota, di antara rutinitas kerja manusia. Sastra juga bisa lahir dari ruang paling ‘pinggiran’ sekalipun. Kegiatan sastra yang diadakan di wilayah yang jauh dari keriuhan wacana pun kadangkala terasa lebih menarik dan berkesan. Hal ini terlihat dari acara Temu Sastra Tiga Kota (Purworejo – Kulon Progo – Yogyakarta) yang berlangsung pada hari Minggu 13 Januari 2008 di Gedung PCNU, km 1 Wates Kulon Progo. Acara yang diselenggarakan oleh Komunitas Lumbung Aksara bekerjasama dengan Sangsisaku ini berlangsung dari pagi hingga sore hari.
Marwanto dalam tulisannya di halaman koran ini (KR, Minggu 13 Januari 2008) mengatakan, acara tersebut tercetus dari obrolan ringan di sebuah sore, pada bulan ramadhan tahun lalu. Dlontarkan oleh salah seorang ‘sesepuh’ penyair Kulon Progo, Papi Sadewa. Menurut Marwanto rencana itu langsung mereka sepakati mengingat perlunya kebangkitan regenerasi sastra di Kulon Progo sendiri. Selain itu, acara ini juga merupakan ruang silaturahmi antar penyair lintas daerah. Mengingat Kulon Progo terletak di tengah-tengah kota Yogyakarta dan Purworejo. Karenanya, lanjut Marwanto, hubungan yang dulu pernah terjalin, perlu kembali dipertautkan agar muncul gairah kesastraan yang lebih ramai juga sebuah mediasi antar sastrawan.
Lumbung Aksara, sebagai penyelenggara merupakan salah satu komunitas sastra di antara salah dua —atau lebih— komunitas sastra di Kulon Progo. Agenda pasti mereka adalah menerbitkan buletin bulanan bernama Lontar. Buletin gratis yang tampil delapan halaman yang memuat cerpen, puisi dan agenda sastra di Kulon Progo, khususnya.
Dalam acara ini, mereka juga menerbitkan sebuah Antologi yang berisi puisi, geguritan dan cerpen dari para peserta yang diberi judul Antariksa Dada. Skitar 41 peserta yang tercatat, 5 dari Purworejo, sembilan dari Yogya, selebihnya berasal dari Kulon Progo sendiri. Ini belum termasuk peserta yang tidak tercatat dalam antologi ini, disebabkan naskah mereka belum masuk sampai deadline yang ditetapkan.
Peserta yang diundang berasal dari beragam usia. Mulai dari mereka yang memiliki jam terbang tinggi hingga yang masih aktif di bangku sekolah. Menurut panitia, hal ini diharapkan bisa memberi dinamika, sebuah momen di mana ada interaksi, komunikasi, sharing dan belajar. Acara dan antologi semacam ini tentu sangat membantu kawan-kawan sastrawan muda –usia dan pengalaman– untuk ikut terlibat dan ter‘peta’kan di jagad kepenyairan yang besar ini.
Acara yang berlangsung sampai sore ini, diselingi dengan diskusi singkat dengan pembicara Joko Sumantri dan Siho, peneliti dari Jepang. Apresiasi peserta asyik. Terbukti dari pagi sampai sore mereka masih terus mengikuti acara, meski dengan energi yang sudah nyaris habis. Kejenuhan ini tentu disebabkan waktu yang panjang. Selama acara berlangsung panggung terlihat lebih banyak kosong. Tak direspon. Belum lagi acaranya berlangsung dalam satu hari yang otomatis banyak jadwal yang terpaksa dipadatkan. Panitia saya kira, sudah dipertimbangkannya dengan matang. Acara ‘terpaksa’ dilakukan sekali jalan. Kita bisa maklumi ini. Acara sastra nyaris jauh dari bantuan dan sponsor.
Banyaknya penyair muda –usia dan pengalaman– yang terlibat memperlihatkan bahwa Kulon Progo memiliki embrio sastra yang luar biasa. Kesadaran semacam ini tentu tak lepas dari peran Lumbung Aksara sebagai ruang apresiatif dan Lontar sebagai wadah penampung karya. Kita selalu berharap acara sastra semacam ini tak berhenti di jalan. Sebenarnya, kawan-kawan yang masih dalam tahap ‘belajar’ untuk sementara lebih baik berada di posisi penikmat. Mereka bukan tak boleh tampil, tapi harus melewati tahap penyeleksian, agar terasa adanya semacam ‘persaingan’ bagi mereka. Ini akan memicu mereka untuk berkarya dan terus belajar. Siasat lainnya, mereka yang tampil bisa mewakili komunitas atau kelompok tertentu. Penyeleksian ini tentu tak tertutup kemungkinan bagi peserta dari Yogyakarta maupun Purworejo agar bisa memancing animo dan apresiasi yang lebih. Tapi lagi-lagi saya pikir panitia sudah sampai pula pada pemikiran ini, dengan segala kemungkinannya.
Persoalan selanjutnya tentu saja what nexs? Apa setelah ini? kita tentu tak ingin acara semacam ini, setelah kemunculannya segera mati, bukan? Setidaknya ada kemungkinan peristiwa berikutnya. Kita tentu berharap setelah ini akan ada respon kreatif yang tak kalah ‘gagahnya’. Kulon Proga sudah saatnya memiliki acara semacam ini. Atau setidaknya, ini menjadi agenda rutin Lumbung Aksara, misalnya atau memang harus saling di‘lempar’ ke masing-masing kota agar semangat totalitas dan rasa memilikinya lebih terasa. Tugas Marwanto dan Lumbung Aksara (LA), Papi Sadewa dan komunitas Sangsisaku untuk terus menemukan, mengaah dan mendidik regenerasi ini.
Lalu satu hal yang tak kalah pentingnya adalah rumusan acara yang rasanya masih belum matang. Mestinya ada kosentrasi yang lebih jelas dan fokus. Jika temu sastra, mestinya cerpen juga mendapat porsi yang besar. Tidak menjadi berdosa mendudukan penyair, cerpenis dalam satu ruang yang sama, bukan? Begitu juga dengan geguritan sebagai salah satu warisan kebudayaan Jawa. Dan sastra bukan hanya melulu puisi. Tetapi, yang awal tak selalu sempurna, bukan? Selalu ada waktu untuk memperbaikinya.
Di luar itu semua, acara ini merupakan kejutan yang luar biasa. Kegiatan konkrit yang bisa dirasakan langsung, nitibang kita mesti bertualang jauh ke belakang. Tidakkah saat ini kita bisa menciptakan sebuah iklim baru dalam bersastra dan bukan tidak mungkin akan menjadi luar biasa. Dan soal ingatan, biarlah sejarah yang mencatat. Bukankah hari ini pun akan menjadi masa lampau? Di sini akan lahir kemungkinan baru, sebuah energi baru dan ruang kreatif baru yang lebih dasyat. Sebagai pembuka, acara semacam ini perlu diacungi jempol.
Bagaimana pun, acara yang sudah berlangsung ini harus diapresiasi dan dicatat. Ini merupakan sebuah mediasi yang kita harap akan selalu ada dan terus ada di tengah kondisi kusustraan yang semerawut ini. acara sastra tak hanya milik orang ‘kota’. Ia tak melulu hadir di lembaga-lembaga resmi, diadakan oleh komunitas besar dan mapan. Tetapi ia bisa juga lahir dari sebuah ‘tempat sepi’, jauh dari keramaian dan hiruk pikuk, jauh dari ‘pesta’ dan diselenggarakan komunitas ‘lokal’ pula.
Sastra lahir dari mana saja dan bisa hadir di mana saja. Temu Sastra Tiga Kota yang berlangsung di Kulon Progo ini telah membuktikannya. Selebihnya kita serahkan kepada waktu.
15 Januari 2008
Marwanto dalam tulisannya di halaman koran ini (KR, Minggu 13 Januari 2008) mengatakan, acara tersebut tercetus dari obrolan ringan di sebuah sore, pada bulan ramadhan tahun lalu. Dlontarkan oleh salah seorang ‘sesepuh’ penyair Kulon Progo, Papi Sadewa. Menurut Marwanto rencana itu langsung mereka sepakati mengingat perlunya kebangkitan regenerasi sastra di Kulon Progo sendiri. Selain itu, acara ini juga merupakan ruang silaturahmi antar penyair lintas daerah. Mengingat Kulon Progo terletak di tengah-tengah kota Yogyakarta dan Purworejo. Karenanya, lanjut Marwanto, hubungan yang dulu pernah terjalin, perlu kembali dipertautkan agar muncul gairah kesastraan yang lebih ramai juga sebuah mediasi antar sastrawan.
Lumbung Aksara, sebagai penyelenggara merupakan salah satu komunitas sastra di antara salah dua —atau lebih— komunitas sastra di Kulon Progo. Agenda pasti mereka adalah menerbitkan buletin bulanan bernama Lontar. Buletin gratis yang tampil delapan halaman yang memuat cerpen, puisi dan agenda sastra di Kulon Progo, khususnya.
Dalam acara ini, mereka juga menerbitkan sebuah Antologi yang berisi puisi, geguritan dan cerpen dari para peserta yang diberi judul Antariksa Dada. Skitar 41 peserta yang tercatat, 5 dari Purworejo, sembilan dari Yogya, selebihnya berasal dari Kulon Progo sendiri. Ini belum termasuk peserta yang tidak tercatat dalam antologi ini, disebabkan naskah mereka belum masuk sampai deadline yang ditetapkan.
Peserta yang diundang berasal dari beragam usia. Mulai dari mereka yang memiliki jam terbang tinggi hingga yang masih aktif di bangku sekolah. Menurut panitia, hal ini diharapkan bisa memberi dinamika, sebuah momen di mana ada interaksi, komunikasi, sharing dan belajar. Acara dan antologi semacam ini tentu sangat membantu kawan-kawan sastrawan muda –usia dan pengalaman– untuk ikut terlibat dan ter‘peta’kan di jagad kepenyairan yang besar ini.
Acara yang berlangsung sampai sore ini, diselingi dengan diskusi singkat dengan pembicara Joko Sumantri dan Siho, peneliti dari Jepang. Apresiasi peserta asyik. Terbukti dari pagi sampai sore mereka masih terus mengikuti acara, meski dengan energi yang sudah nyaris habis. Kejenuhan ini tentu disebabkan waktu yang panjang. Selama acara berlangsung panggung terlihat lebih banyak kosong. Tak direspon. Belum lagi acaranya berlangsung dalam satu hari yang otomatis banyak jadwal yang terpaksa dipadatkan. Panitia saya kira, sudah dipertimbangkannya dengan matang. Acara ‘terpaksa’ dilakukan sekali jalan. Kita bisa maklumi ini. Acara sastra nyaris jauh dari bantuan dan sponsor.
Banyaknya penyair muda –usia dan pengalaman– yang terlibat memperlihatkan bahwa Kulon Progo memiliki embrio sastra yang luar biasa. Kesadaran semacam ini tentu tak lepas dari peran Lumbung Aksara sebagai ruang apresiatif dan Lontar sebagai wadah penampung karya. Kita selalu berharap acara sastra semacam ini tak berhenti di jalan. Sebenarnya, kawan-kawan yang masih dalam tahap ‘belajar’ untuk sementara lebih baik berada di posisi penikmat. Mereka bukan tak boleh tampil, tapi harus melewati tahap penyeleksian, agar terasa adanya semacam ‘persaingan’ bagi mereka. Ini akan memicu mereka untuk berkarya dan terus belajar. Siasat lainnya, mereka yang tampil bisa mewakili komunitas atau kelompok tertentu. Penyeleksian ini tentu tak tertutup kemungkinan bagi peserta dari Yogyakarta maupun Purworejo agar bisa memancing animo dan apresiasi yang lebih. Tapi lagi-lagi saya pikir panitia sudah sampai pula pada pemikiran ini, dengan segala kemungkinannya.
Persoalan selanjutnya tentu saja what nexs? Apa setelah ini? kita tentu tak ingin acara semacam ini, setelah kemunculannya segera mati, bukan? Setidaknya ada kemungkinan peristiwa berikutnya. Kita tentu berharap setelah ini akan ada respon kreatif yang tak kalah ‘gagahnya’. Kulon Proga sudah saatnya memiliki acara semacam ini. Atau setidaknya, ini menjadi agenda rutin Lumbung Aksara, misalnya atau memang harus saling di‘lempar’ ke masing-masing kota agar semangat totalitas dan rasa memilikinya lebih terasa. Tugas Marwanto dan Lumbung Aksara (LA), Papi Sadewa dan komunitas Sangsisaku untuk terus menemukan, mengaah dan mendidik regenerasi ini.
Lalu satu hal yang tak kalah pentingnya adalah rumusan acara yang rasanya masih belum matang. Mestinya ada kosentrasi yang lebih jelas dan fokus. Jika temu sastra, mestinya cerpen juga mendapat porsi yang besar. Tidak menjadi berdosa mendudukan penyair, cerpenis dalam satu ruang yang sama, bukan? Begitu juga dengan geguritan sebagai salah satu warisan kebudayaan Jawa. Dan sastra bukan hanya melulu puisi. Tetapi, yang awal tak selalu sempurna, bukan? Selalu ada waktu untuk memperbaikinya.
Di luar itu semua, acara ini merupakan kejutan yang luar biasa. Kegiatan konkrit yang bisa dirasakan langsung, nitibang kita mesti bertualang jauh ke belakang. Tidakkah saat ini kita bisa menciptakan sebuah iklim baru dalam bersastra dan bukan tidak mungkin akan menjadi luar biasa. Dan soal ingatan, biarlah sejarah yang mencatat. Bukankah hari ini pun akan menjadi masa lampau? Di sini akan lahir kemungkinan baru, sebuah energi baru dan ruang kreatif baru yang lebih dasyat. Sebagai pembuka, acara semacam ini perlu diacungi jempol.
Bagaimana pun, acara yang sudah berlangsung ini harus diapresiasi dan dicatat. Ini merupakan sebuah mediasi yang kita harap akan selalu ada dan terus ada di tengah kondisi kusustraan yang semerawut ini. acara sastra tak hanya milik orang ‘kota’. Ia tak melulu hadir di lembaga-lembaga resmi, diadakan oleh komunitas besar dan mapan. Tetapi ia bisa juga lahir dari sebuah ‘tempat sepi’, jauh dari keramaian dan hiruk pikuk, jauh dari ‘pesta’ dan diselenggarakan komunitas ‘lokal’ pula.
Sastra lahir dari mana saja dan bisa hadir di mana saja. Temu Sastra Tiga Kota yang berlangsung di Kulon Progo ini telah membuktikannya. Selebihnya kita serahkan kepada waktu.
15 Januari 2008
Saturday, December 29, 2007
Selamat Tahun Baru
Kami mengucapkan "Selamat Tahun Baru 2008" semoga segala sesuatunya berjalan dengan baikd an benar. dan blog ini bisa berjalan dengan lancar. bukankah banyak hal-hal yang tak sempat kita catat? dan buku-buku berhamburan seperti banjir tetapi aku terlalu pemalas untuk mengumpulkannya.
maukah anda membantu dengan resensi-resensi atas nama kertas yangs empat 'dinodai' tinta. buku-buku yang menurut anda orang lain tak akan punya. buku-buku yang menurut anda lucu, unik dan menggelikan.
kami berkomitmen mencatat media dan karya yang pernah ada, yang masih ada atau masih dalam bentuk igauan. media atau buku yang hanya dimiliki sedikit orang, yang dibagikan, buku yang dicetak dnwegan biaya sendiri. dan tentu tak pula kami tolak buku-buku yang terbit dari penerbit besar dan ternama. tetapi juga kami sambut buku-buku fotokopian, media-media, semacam buletin, majalah, hurnal yang hanya berisi 4 halaman kertas.
bukankah kita mesti optimis, sebagaimana yang sering terucapkan ketika tahun berganti?
maukah anda membantu dengan resensi-resensi atas nama kertas yangs empat 'dinodai' tinta. buku-buku yang menurut anda orang lain tak akan punya. buku-buku yang menurut anda lucu, unik dan menggelikan.
kami berkomitmen mencatat media dan karya yang pernah ada, yang masih ada atau masih dalam bentuk igauan. media atau buku yang hanya dimiliki sedikit orang, yang dibagikan, buku yang dicetak dnwegan biaya sendiri. dan tentu tak pula kami tolak buku-buku yang terbit dari penerbit besar dan ternama. tetapi juga kami sambut buku-buku fotokopian, media-media, semacam buletin, majalah, hurnal yang hanya berisi 4 halaman kertas.
bukankah kita mesti optimis, sebagaimana yang sering terucapkan ketika tahun berganti?
Friday, September 21, 2007
Informasi sederhana bagi penggemar buku
saudaraku yang tercinta. sebuah niat tidaklah semulus kenyataannya demikian pula dengan blog yang saya niatkan sebagai catatan, dokumentasi dan semacam egoisme bahwa saya pembaca buku. meskipun tidak dasyat.
Sunday, August 19, 2007
Saya, Pembaca yang Kampungan
Saya ingat ketika datang pertama kali ke Yogya awal tahun 2004, saya kaget melihat begitu banyaknya buku dikoleksi secara pribadi. Setiap orang yang saya kunjungi memiliki rak-rak buku yang tertata rapi dengan kemasan yang menggoda minat saya. Rasa kaget itu berubah panik begitu melihat ada beberapa buku yang pernah saya dengar judulnya, pernah disebut-sebut pengarangnya. Keinginan saya meledak-ledak untuk segera membacanya. Keinginan semacam itu menjadikan saya seorang yang rakus; menumpuk sebanyak-banyaknya buku tanpa ada selera untuk membacanya.
Subscribe to:
Posts (Atom)
