Kami memiliki dua blog khusus untuk buku sastra, terutama buku-buku sastra yang tak ada di toko buku:

1. http://pustakapelabuhan.blogspot.com/ -berisi info2 buku sastra yang bisa dipesan langsung ke penulisnya. Anda bisa memberikan info buku2 sastra yang sedang terbit lewat dinding Indrian Koto atau Jualan Buku Sastra.

2. http://jualbukusastra.blogspot.com/. Berisi daftar buku yang bisa dipesan kepada kami secara langsung. Anda bisa bekerjasama dengan kami dalam distribusi kecil-kecilan.

Sunday, May 1, 2011

Lorong Kematian, Novel Aguk Irawan MN


 Norong Kematian
Novel Aguk Irawan MN
Pengarang : Aguk Irawan MN
Penerbit : Global Media
JumHal : 315

Novel ini sangat fenomenal, kisahnya membuat jiwaku terguncang... sebuah petualangan dahsyat mengesankan setelah kematian yg sangat menakjubkan!!!
bagi yang suka sensasi dan petuangan wajib baca novel ini..

Harga versi erlangga-eureka.shop 15.000

Pemesanan via penerbit atau pengarang.
Dapatkan juga di toko buku gramedia dll. terdekat di kota anda.

Musim yang Menggugurkan Daun Kumpulan Cerpen Yetti A. KA


Ketenangan Merentang Kenangan Antologi Cerpen Sungging raga

 
Ketenangan Merentang Kenangan
Album Cerita Sungging Raga
greentea, 2010

harga: Rp. 35.000

Antologi cerpen Sungging Raga ini memuat 16 cerita pendek. Diterbitkan secara P.O.D dan hanya dibuka penjualan lewat inbox FB sang penulis. Silahkan pesan, semoga masih Bersisa.

Kalender Lunar Sepilihan Puisi Dian hartati

 
Kalender Lunar
Sepilihan Puisi Dian Hartati
Penerbit Dian rakyat  
 
Silakan memesan dan harga buku via e-mail: kalenderlunar@yahoo.com

Tangan untuk Utik Kumpulan Cerpen Bamby Cahyadi



Tangan untuk Utik 
Kumcer Bamby Cahyadi
Penerbit: Koekoesan
Tahun Terbit: 2009
Ukuran: 14 x 21 cm, vii + 133 hlm
Harga: Rp. 29.500

Pemesanan bisa via penulis, Bamby Cahyadi.

EPILOG Kumcer "Tangan untuk Utik" karya Bamby Cahyadi

1

BAMBY CAHYADI, manajer sebuah restoran cepat saji di kawasan Jakarta ini, memiliki ciri dan karakter khas dalam menulis cerita. Ia menyuguhkan pergumulan kekuatan pikiran, terutama kekuatan pemaknaan atas ihwal remeh dan sederhana dalam keseharian kita, namun kita sering abai menyikapinya. Pergumulan itu disampaikannya secara sederhana, tapi sarat kejutan. Memang ada celah pada keterampilan bertutur—kadang tercium aroma tersendat dalam penceritaan. Namun, itu tidak mengurangi kegairahan saya dalam pembacaan cerpen demi cerpen. Mengapa? Karena setiap cerpen dihiasi kejutan, kelokan, bahkan tikungan tajam.

Kelebihan Bamby dalam bercerita adalah kesanggupannya menyuguhkan akhir cerita yang ”mengagetkan”. Rasa kaget yang membidani lahirnya ”keheranan”, bahkan ”ketakjuban”. Kumpulan cerita pendek Tangan untuk Utik menisbahkan kekuatan Bamby dalam bercerita. Sebagai pengarang yang meneruka jalan kepengarangan lewat ”dunia maya”, dunia yang dicap sebagai alam lain oleh banyak sastrawan, ia menawarkan hal remeh yang sederhana. Hal yang biasa. Seperti mimpi. Ya. Bukankah mimpi adalah hal biasa bagi kita?

Mimpi itu yang dikuak dengan cerdas oleh pengarang kelahiran Manado ini. Mimpi yang menyuguhkan keperihan, ketegangan, dan kemalangan. Sesekali hadir keindahan, kepuasan, dan kebahagiaan.

Semula, menulis cerita menjadi terapi hati bagi Bamby. Merupakan kebahagiaan baginya ketika cerpen yang ditulisnya terbaca, dan mendapat apresiasi dari orang lain. Dari sana lelaku kepengarangannya bermula. Ada gairah meletup setiap ia menerima tanggapan pembaca cerpennya. Komentar pedas, kritik tajam, bahkan caci maki sesama Kemudianers—sebutan bagi anggota situs penulis Kemudian.com—tidak lantas membuat nyalinya ciut. Malah menyulut gairahnya untuk belajar lebih keras dan lebih cerdas.

Hasilnya, kita bisa temukan kejutan demi kejutan dalam kumpulan cerpen perdananya ini.

Khrisna Pabichara,
penyair dan penyuka cerpen, tinggal di pinggiran Jakarta.


via: 
http://dusunkata.blogspot.com/2009/09/epilog-kumcer-tangan-untuk-utik-karya.html


Buton, Ibu dan Sekantong Luka Antologi Puisi Irianto Ibrahim


Buton, Ibu dan Sekantong Luka
Antologi Puisi Irianto Ibrahim
Penerbit Frame Publishing
Cetakan pertama, 2010

harga: 28.000

Pemesanan via penulis  http://www.facebook.com/nozqa#!/irianto.ibrahim

Mencari Puisi yang Hilang dari “Buton, Ibu dan Sekantong Luka” Karya Irianto Ibrahim

1

Apa yang akan kuceritakan lebih dulu padamu, penyair? Tentang angka lahir yang nyaris sama barangkali? Atau kisah colo-colo di sebuah pulau kecil yang berulang kali memanggil petani ubi dalam celah karang: Lakudo.



Kisah masih terbayang, seperti ikan seperahu yang kita bakar sore itu.Lalu sebuah buku datang dari tanganmu di Kedai Arus. Malam itu, sepuluh tahun terasa lebih dekat. Aku yakin, buku itulah yang pertama kau berikan pada seseorang di Kendari: padaku.



Sangat membahagiakan bukan? Apalagi kau memintaku membicarakan buku itu.Nah, melalui catatan sederhana ini, aku akan menulis dari hati saja. Menulis sebelum puisi-puisi dalam bukumu lahir. Ketika kita masih satu meja di jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Unhalu. Bukankah yang lain telah banyak menulis tentangmu sewaktu bedah buku di tiga kota: Yogakarta, Tasikmalaya, dan Jakarta?



Aku akan memelukmu sambil membisikkan sebuah tabloid Podium Pers Mahasiswa Unhalu tentang “Darah Itu Merah Jenderal”. Di sinilah puisi dalam bukumu bermula meskipun aku lebih memilih, bukumu lebih dominan tentang ibu. Bukankah puisi pembuka “Bunda, Kirimkan Nanda Doa-doa” adalah puisi pertama meskipun tak tercantum sebagai halaman pembuka puisi? Lalu lihatlah tahun-tahun setelahnya, ibu begitu bertenaga di sana. “Kelak Kau akan Mengerti” meskipun rumah dan kenangan sama-sama telah usang, tapi aku masih ingat “Sajak Botol” tahun 1996. Kukira, ini puisi yang luput setelah Nanga-Nanga malam itu, kita bermain api di bawah terpal.

2

Ada 53 puisi dalam antologi “Buton, Ibu dan Sekantong Luka”. Ditulis dalam rentang tahun 2000-2010 (meralat pernyataan Sarabunis Mubarok sebelumnya,2007-2010). Kurun sebelas tahun itu, terdapat satu puisi yang terbit pada tahun 2000 (Bunda, Kirimkan Nanda Doa-doa) dan 2001 (Pantai Katembe). Puisi terbanyak ditulis tahun 2007 (22 puisi) lalu menyusul tiga tahun berikutnya.



Bicara tentang Anto, sebenarnya kita tidak saja diajak membaca sejarah Butuni 1969 tetapi bagaimana mencintai ibu dan seseorang yang kelak menjadi ibu untuk anak-anakmu (Suatu Ketika di Kamar Kontrakan). Tentu saja pembacaan lain dari konteks puisi yang telah ia paparkan sebelumnya akan lebih terang (Sebuah Cerita dari Dua Gelas Kopi, Peminang Sepi, Pada Sebuah Pesta, Sungai Sajak, Hawa Semedi, Perahu Kanak-kanak). Keenam puisi tersebut disuguhkan kepada kawan-kawan yang mencintainya. Anto begitu paham, pada siapa puisi itu ditujukan sebelum ia benar-benar menulisnya. Kelak kau akan mengerti, begitulah.



Ada satu hal yang tak bisa lepas dari kepenyairan Anto selain potret sosial yang dekat dari dirinya dan sangat kuat dalam buku antologi puisi ini, yakni romantisme kebebasan. Anto tetap satu arah memotret keseharian: ada doa ibu yang tak pernah lepas. Ibulah yang membuat sosok penyair ini begitu kuat dalam metafor maupun proses penulisan lainnya.


3

Irianto Ibrahim telah berhasil membukukan karya puisinya. Kita patut bangga sebab ini yang pertama sebuah buku antologi puisi terbit di Kendari. Realitas sosial begitu bertenaga. Kita bisa membaca sejarah berdarah tahun 1969 itu melalui buku kecil ini. Dan, Anto memang tak main-main, sejarah itu memang kelam tapi laras memang tak perlu datang untuk sekadar mencatat buku kecil Saleh Hanan, “Buton, Basis PKI” dengan buku puisi. Maka, buku ini memang wajib dibaca.



Mungkin buku berikut akan kita temukan puisi Anto yang hilang itu. Bukankah tahun 2002-2006 tak satu pun puisinya hadir di sini?


Kendari, 2010 


Pesan Cinta daro Hujan Novel Erni Aladjai

Judul: Pesan Cinta dari Hujan (sebuah novel)
Penulis: Erni Aladjai
Penyunting: Faiz Ahsoul
ISBN: 978-602-8384-41-9
Edisi: I, Oktober 2010
Detail: 13x19, vi+272hlm

Harga: 50.000,-

ovel ini bercerita tentang seorang anak perempuan bernama Hujan yang tinggal di Pulau Lipulalongo yang terletak di Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah, sebuah pulau terpencil dengan budaya patrilineal dan sinkritisme yang kental. Sejak kecil Hujan menyaksikan dan merasakan kekasaran ayahnya terhadap ibunya, adiknya, dan dirinya. Hal itu membuat Hujan lebih dekat dengan sahabatnya, Hasna, seorang gadis yatim piatu yang tak lagi punya siapa-siapa di pulau itu dan membiayai hidupnya sendiri dengan mencari kerang remis.

Ketika Hujan sedang melanjutkan sekolahnya ke kota, ia mendengar kabar bahwa Hasna diasingkan oleh penduduk Pulau Lipulalongo karena Hasna menderita penyakit terkutuk, yakni penyakit kusta. Hujan akhirnya kembali ke kampung halamannya dan menggunakan waktunya secara keseluruhan untuk menemani, merawat, dan menghibur sahabatnya Hasna di pulau terpencil itu.

“Selama bertahun-tahun Indonesia  selalu menjadi salah satu negara yang memiliki penderita kusta terbanyak di dunia. Penderita dan mantan penderita kusta adalah salah satu kelompok yang paling banyak mendapatkan diskriminasi di negara ini. Anehnya, begitu susah menemukan ‘kisah kusta’ dengan porsi memadai dalam karya sastra Indonesia. Erni Aldajai melalui kisah cinta ‘yang berbeda’ dalam novel ini mengajak kita masuk ke dunia kusta yang dianggap nista oleh banyak orang. Ini novel yang penting untuk dibaca!” (M. Aan Mansyur – penulis)

pemesanan:  TB Insist Press

http://bukuinsistpress.blogspot.com/2010/10/pesan-cinta-dari-hujan-novel.html


Aku Serigala yang Merdeka Karena cinta Antologi Puisi Eko Putra

 
Aku Serigala yang Merdeka Karena Cinta
Antologi Puisi Eko Putra
Diterbitkan oleh Penerbit Bisnis2030, 
Jakarta, November 2010.
 
Harga:
Pemesanan via eko Putra
http://www.facebook.com/photo.php?fbid=1616903393219&set=t.1615778708&type=1

Bulettin Hysteria yang masih bertahan di edisi ke 78 ini

 Hingga saat ini, Buletin Hysteria telah terbit hingga 78. semoga buletin ini masih bisa tetap eksis.

Harga: Ganti Ongkos Cetak. 98% gratis

Pemesanan lewat Adin Mbuh, di
http://www.facebook.com/photo.php?fbid=10150094224451821&set=a.10150094224166821.271899.545141820&type=1&theater

Kekibang Antologi Pusi Bahasa Lematang Karya Yudistio Ismanto


KOMUNITAS SASTRA LEMBAH SERELO meluncurkan Antologi Puisi berbahasa Lematang karya Yudistio Ismanto. Buku ini bosa menjadi alternatif di antara sepinya buku-buku sastra berbahasa daerah.

pemesanan lewat:
http://www.facebook.com/photo.php?fbid=1725192175559&set=t.1615778708&type=1
Ini merupakan buletin komunitas, sebuah niat ingin mendokumentasikan kegiatan-kegiatan komunitas dalam bentuk tertulis, ditambah cerpen, puisi, artkel, esai, opini, catatan perjalanan, feature wisata, esai foto, lahir sebuah buletin sederhana ini.

di format digital ini kawan-kawn bisa menikmati dengan layout asli dan foto berwarna. Sayangnya karna keterbatasan, di format cetak gambar dan fotonya hitam putih.

Halaman Pantai menerima bermacam jenis tulisan, (cerpen, puisi, artkel, esai, opini, catatan perjalanan, feature wisata, esai foto), silahkan kirim ke email: halaman_pantai@yahoo.co.id

Sampai edisi ini sudah terbit setidaknya 3 edisi.
http://www.facebook.com/photo.php?fbid=1495925954496&set=t.1615778708&type=1

Fragmen Waktu Sajak Pilihan Riau Pos 2010

Fragmen Waktu Sajak Pilihan Riau Pos 2010 

Yayasan sagang, 2010


Belajar Membaca Fragmen Waktu

-- Agus Sri Danardana

FRAGMEN Waktu (Hary B Kori’un [Edt], Pekanbaru: Yayasan Sagang, 2010) adalah kumpulan sajak pilihan Riau Pos 2010, berisi 74 sajak dari 20 penyair. Antologi 113 halaman itu, dan beberapa buku lainnya, dibagikan secara gratis kepada para undangan yang hadir pada acara Penerimaan Anugerah Sagang dan Anugerah Sagang Kencana di Hotel Labersa, Pekanbaru, pada 29 Oktober 2010.

Berbeda dengan kumpulan-kumpulan Riau Pos pada tahun-tahun sebelumnya, Fragmen Waktu (dan kumpulan Riau Pos 2010 lainnya) tidak diberi kata pengantar oleh editornya. Dengan demikian, 74 sajak dalam antologi itu dibiarkan langsung berdialog dengan pembacanya secara merdeka, tanpa campur tangan siapa pun. Ketiadaan pengantar dalam sebuah antologi tentu bukan keaiban. Ketiadaan itu, oleh sebagian orang, justru dianggap memberikan keleluasaan pembaca dalam menafsir karya. Namun, oleh sebagian orang lainnya, keberadaan pengantar dianggap sangat penting. Di samping dapat menjadi bentuk pertanggungjawaban penyusun (editor), pengantar juga dapat menjadi penyigi yang diharapkan mampu membuka cakrawala tafsir pembaca dalam mengawali pengapresiasiannya terhadap sebuah karya.

Terlepas dari pro-kontra tentang keberadaan pengantar dalam antologi, walau bagaimanapun, kehadiran Fragmen Waktu perlu mendapat apresiasi pembaca. Sebagai langkah awal, judul antologi itu dapat dijadikan pegangan. Dibandingkan dengan tema dan topik, meskipun sering bertumpang tindih, biasanya judul lebih spesifik: ditail dan konkret. Judul, dalam teks tertentu, bahkan menjadi kunci pintu gerbang pemahaman. Dalam analisis wacana, judul diyakini merupakan gambaran tentang sesuatu yang membentuk skema(ta) tertentu.

Pertanyaannya sekarang adalah skema(ta) apa(saja)kah yang tergambar dalam fragmen waktu? Agar tidak liar, jawaban atas pertanyaan itu harus tetap terfokus pada tafsir makna kata-kata pembentuknya: fragmen dan waktu.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (edisi IV, 2008: 399 dan 1554), fragmen berarti (1) ‘cuplikan atau petikan [sebuah cerita, lakon, dsb.]’ dan (2) ‘bagian atau pecahan sesuatu’, sedangkan waktu berarti (1) ‘seluruh rangkaian saat ketika proses, perbuatan, atau keadaan berada atau berlangsung’, (2) ‘lamanya [saat yang tertentu]’, (3) saat yang tertentu untuk melakukan sesuatu’, (4) ‘kesempatan; tempo; peluang’, (5) ‘ketika, saat’, (6) ‘hari [keadaan hari]’, serta (7) ‘saat yang ditentukan berdasarkan pembagian bola dunia’. Dengan demikian, frasa fragmen waktu memiliki banyak tafsir, bergantung arti/makna setiap kata yang dipilih. Jika yang dipilih arti/makna kata pertama, misalnya, fragmen waktu dapat ditafsirkan sebagai cuplikan sebuah cerita/lakon tentang sesuatu (yang sedang) berlangsung. Jika dikombinasikan dengan pilihan arti/makna kata yang lain, fragmen waktu dapat ditafsirkan juga sebagai bagian atau pecahan tentang kesempatan, tempo, atau peluang tertentu. Dengan cara yang paling sederhana, fragmen waktu juga dapat ditafsirkan sebagai fragmen tentang waktu, sebagaimana memaknai fragmen kehidupan sebagai fragmen tentang kehidupan. Begitu seterusnya, tafsir lain dapat ditetapkan sesuai dengan cakrawala pegetahuan pembaca.

Bertolak dari tafsiran itu, apresiasi terhadap Fragmen Waktu dapat dilanjutkan dengan tetap berfokus pada kata pembentuk judul. Meskipun tidak menimbulkan skema(ta) yang persis sama, secara umum setiap kata akan menimbulkan suatu skema(ta) yang bersifat sosial-budaya, yang membantu pembaca memahami apa yang disampaikan penulis. Kata fragmen ‘cuplikan cerita/lakon’, misalnya, menimbulkan skema(ta) sebuah “pentas”. Fragmen waktu, dengan demikian, dapat menimbulkan skema(ta) baru, pementasan “waktu”. Terlepas dari tafsir kata waktu yang masih debatable, dalam pementasan itu seolah-olah terlihat 20 aktor (penyair) sedang beraksi di atas panggung, memamerkan kebolehannya. Mereka sedang melakonkan sebuah/beberapa adegan (entah bersama-sama, entah sendiri-sendiri) sebagai bagian dari sebuah cerita (yang juga entah apa judulnya). Mereka itu adalah (1) Cahaya Buah Hati, 7 kali muncul; (2) Cikie Wahab, 6 kali muncul; (3) Dien Zhurindah, 4 kali muncul; (4) Ellysan Katan, 5 kali muncul; (5) Fakhrunnas M.. Jabbar, 1 kali muncul; (6) Guri Ridola, 4 kali muncul; (7) Hang Kafrawi, 4 kali muncul; (8) Indrian Koto, 4 kali muncul; (9) Isbedy Stiawan ZS, 5 kali muncul; (10) Jefry Al Malay, 2 kali muncul; (11) Kunni Masrohanti, 3 kali muncul; (12) Marhalim Zaini, 1 kali muncul; (13) Mostha Mirthalib, 2 kali muncul; (14) Riki Utomi, 5 kali muncul; (15) Sobirin Zaini, 4 kali muncul; (16) Srikartini Widiya Ningsih, 4 kali muncul; (17) Susi Lunetta, 1 kali muncul; (18) Sugiarti, 2 kali muncul; (19) Taufik Hidayat, 6 kali muncul; dan (20) Taufik Ikram Jamil, 4 kali muncul.

Begitulah, membaca Fragmen Waktu sebenarnya dapat dianalogikan dengan menyaksikan/menonton pementasan bagian sebuah cerita/lakon yang dimainkan oleh 20 pemain (penyair) dalam 74 lakuan (sajak). Dengan penganalogian seperti itu, apresiasi dapat dilanjutkan lagi, misalnya, dengan mengamati dan mengklasifikasi lakuan (sajak) para tokoh (penyair). Cara ini setidaknya akan membantu apresiator menemukan benang merah antarlakuan (sajak): berdiri sendiri-sendiri sebagai adegan atau bersama-sama membentuk adegan. Selanjutnya, atas temuannya itu apresiator dapat meneruskan amatannya untuk mengetahui pula hubungan antaradegan agar mendapatkan gambaran alur ceritanya.

Sebagai salah satu bentuk apresiasi, paparan ini jelas belum menyentuh subtansi Fragmen Waktu. Sekalipun demikian, paparan yang dilatarbelakangi rasa penasaran atas judul antologi itu sekurang-kurangnya telah mengingatkan pembaca akan keberadaan Fragmen Waktu sehingga, dengan demikian, paparan ini pun diharapkan mampu membangkitkan rasa penasaran (baca: memotivasi) pembaca untuk ikut memberikan komentar. Semoga.***

Agus Sri Danardana, Kepala Balai Bahasa Riau. Menulis esai bahasa dan sastra di berbagai media, dan telah menulis beberapa buku. Tinggal di Pekanbaru.

Sumber: Riau Pos, Minggu, 28 November 2010 

diambil dari 
http://cabiklunik.blogspot.com/2010/11/belajar-membaca-fragmen-waktu.html