Syekh Bejirum dan Rajah Anjing
Kumpulan Cerpen Fahrudin Nasrulloh
Cetakan 1, Februari 2011
Penata letak Alek Subairi
Desain sampul Alek Subairi
Ilustrasi cover dan isi Fahrudin Nasrulloh
Penerbit PUstaka puJAngga
www.pustakapujangga.com
www.sastra-indonesia.com
164 hlm.; 14 x 20 cm
Menurut Afrizal dalam pengantarnya karya-karya Fahrudin memiliki sisi yang terbuka untuk dibaca sebagai sebuah novel tentang imajinasi Jawa. Dalam cerpen-cerpennya, Fahrudin menggarap legenda, mitos, sejarah lokal, gosip dan tafsir personal yang saling silang dan seolah membawa kita pada dunia magis Jawa-Lamongan.
Sebab, Tak Semua Buku Sastra Tersedia di Toko Buku. Tak Semua Buku Sastra Sempat Diperbincangkan.Tak Semua Karya Sastra yang Bagus Bisa Mendapat Tempat.
Kami memiliki dua blog khusus untuk buku sastra, terutama buku-buku sastra yang tak ada di toko buku:
1. http://pustakapelabuhan.blogspot.com/ -berisi info2 buku sastra yang bisa dipesan langsung ke penulisnya. Anda bisa memberikan info buku2 sastra yang sedang terbit lewat dinding Indrian Koto atau Jualan Buku Sastra.
2. http://jualbukusastra.blogspot.com/ . Berisi daftar buku yang bisa dipesan kepada kami secara langsung. Anda bisa bekerjasama dengan kami dalam distribusi kecil-kecilan.
Pages
rubrik
- Buku alternatif (16)
- Buku Amal (2)
- Buku Puisi (35)
- buku sastra (5)
- Cerpen (28)
- display pustaka pelabuhan (16)
- e-book (2)
- Esai/Kritik (1)
- jurnal (3)
- lain-lain (3)
- Majalah (3)
- Novel (21)
- Saya dan Buku (7)
- Ulasan Buku (26)
Saturday, April 30, 2011
Sabda Palon Novel Damar Shashangka
Sabda Palon, Kisah Nusantara yang Disembunyikan
Novel Damar Shashangka
Penyunting: Salahuddien Gz, Dita Sylvana
Penyelaras Bahasa: Khrisna Pabichara
Penggambar Sampul: Yudi Irawan
ISBN: 978-979-16110-5-3
Penerbit: Dolphin
Harga: Rp 75.000,- (450 Hlm. Bookpaper)
Melalui narasi-narasi memukau nyaris pada setiap babak, novel ini tak hanya mampu menyatukan keping-keping sejarah masa akhir kejayaan Majapahit yang tercecer dan terpendam, tetapi juga bakal menyihir Anda untuk memasuki Nusantara masa silam. Tidaklah mudah membawa pembaca abad 21 kembali ke abad 15, yang berjejal aroma dupa, kemegahan pura, dan gadis-gadis yang masih bertelanjang dada. Tetapi Damar Shashangka mampu melakukan itu dengan mempesona.
Buku ini bisa dipesan sekarang juga. Dapatkan diskon 15% untuk pembelian 1 buku (jadinya Rp 63.500), diskon 20% untuk pembelian 5 buku (jadinya Rp 300.000), diskon 25% untuk pembelian 10 buku (jadinya Rp 562.000) melalui akun "Khrisna Pabichara" (belum termasuk ongkos kirim). Kirim pesan pemesanan dan alamat yang dituju di INBOX saya. Buku akan dikirim melalui Pos/Tiki. Pembayaran melalui transfer ke rekening:
BCA KCP Lamongan
No. Rekening: 3300473023
a.n. Shalahuddin Gz
Atau:
MANDIRI Cabang Fatmawati
No. Rekening: 127-00-0443912-9
a.n. Shalahuddin Gz
Atau:
BNI Cab. Margonda Depok
No. Rekening: 0205933161
a.n. Khrisna Pabichara
UNTUK MENGETAHUI SEKILAS ISI NOVEL INI, SILAKAN KLIK TAUTAN BERIKUT: http://www.facebook.com/note.php?note_id =496727806975
http://www.facebook.com/photo.php?fbid=201454569883780&set=t.1615778708&type=1
Novel Damar Shashangka
Penyunting: Salahuddien Gz, Dita Sylvana
Penyelaras Bahasa: Khrisna Pabichara
Penggambar Sampul: Yudi Irawan
ISBN: 978-979-16110-5-3
Penerbit: Dolphin
Harga: Rp 75.000,- (450 Hlm. Bookpaper)
Melalui narasi-narasi memukau nyaris pada setiap babak, novel ini tak hanya mampu menyatukan keping-keping sejarah masa akhir kejayaan Majapahit yang tercecer dan terpendam, tetapi juga bakal menyihir Anda untuk memasuki Nusantara masa silam. Tidaklah mudah membawa pembaca abad 21 kembali ke abad 15, yang berjejal aroma dupa, kemegahan pura, dan gadis-gadis yang masih bertelanjang dada. Tetapi Damar Shashangka mampu melakukan itu dengan mempesona.
Buku ini bisa dipesan sekarang juga. Dapatkan diskon 15% untuk pembelian 1 buku (jadinya Rp 63.500), diskon 20% untuk pembelian 5 buku (jadinya Rp 300.000), diskon 25% untuk pembelian 10 buku (jadinya Rp 562.000) melalui akun "Khrisna Pabichara" (belum termasuk ongkos kirim). Kirim pesan pemesanan dan alamat yang dituju di INBOX saya. Buku akan dikirim melalui Pos/Tiki. Pembayaran melalui transfer ke rekening:
BCA KCP Lamongan
No. Rekening: 3300473023
a.n. Shalahuddin Gz
Atau:
MANDIRI Cabang Fatmawati
No. Rekening: 127-00-0443912-9
a.n. Shalahuddin Gz
Atau:
BNI Cab. Margonda Depok
No. Rekening: 0205933161
a.n. Khrisna Pabichara
UNTUK MENGETAHUI SEKILAS ISI NOVEL INI, SILAKAN KLIK TAUTAN BERIKUT: http://www.facebook.com/note.php?note_id
http://www.facebook.com/photo.php?fbid=201454569883780&set=t.1615778708&type=1
Isyarat jantung dan mata dan Simtom-Simtom Sebelum Penyair karya Ganjar Sudibyo dan Mutiah Ayu Rasta
Simtom-Simtom sebelum Penyair
Antologi puisi Ganjar Sudibyo
penerbit evolitera
Isyarat jantung dan Mata
Antologi puisi
Ganjar Sudibyo dan Mutiah Ayu Rasta
Penerbit evolitera
Kedua buku ini beredar lewat e-book. Layak untuk dikoleksi oleh siapa pun. Untuk mendownload e-book kumpulan puisi "Simtom-Simtom sebelum Penyair" dan "Isyarat Jantung dan Mata" silakan datang di situs berikut:
http://evolitera.co.id/themes/main/produ ct.php?product_id=584
dan
http://evolitera.co.id/themes/main/produ ct.php?product_id=593
salam sastra. salam puisi!
http://www.facebook.com/photo.php?fbid=1622461047523&set=t.1615778708&type=1
Antologi puisi Ganjar Sudibyo
penerbit evolitera
Isyarat jantung dan Mata
Antologi puisi
Ganjar Sudibyo dan Mutiah Ayu Rasta
Penerbit evolitera
Kedua buku ini beredar lewat e-book. Layak untuk dikoleksi oleh siapa pun. Untuk mendownload e-book kumpulan puisi "Simtom-Simtom sebelum Penyair" dan "Isyarat Jantung dan Mata" silakan datang di situs berikut:
http://evolitera.co.id/themes/main/produ
dan
http://evolitera.co.id/themes/main/produ
salam sastra. salam puisi!
http://www.facebook.com/photo.php?fbid=1622461047523&set=t.1615778708&type=1
Opera Zaman, Antologi Bersama Komunitas Merapi
Opera Zaman
Kumuplan Cerita Petualangan
20 penulis
Grafindo bekerjasama dengan Komunitas Merapi dan Komunitas Terminal Tiga
Terbit tahun:
Harga Buku:
Antologi cerpen ini merupakan antologi cerpen bersama dengan tema Petualangan yang digagas oleh Kumunitas Merapi bekerjasama dengan penerbit Grafindo dan Terminal Tiga. ada 20 penulis dalam buku ini yang seluruh penjualannya disumbangkan untuk penyediaan buku-buku bacaan anak sekolah.
Meskipun sudah agak lama, setidaknya buku ini layak menjadi dokumentasi.
http://www.facebook.com/photo.php?fbid=10150101861448672&set=t.1615778708&type=1
Halaman Rumah, Antologi Puisi yayan Triansyah
HALAMAN RUMAH
Antologi Puisi Yayan Triyansyah
Cetakan Pertama: Januari 2011
Penata Letak: Irwan bajang
Penyelaras Aksara: Anindra Saraswati
Desain Sampul: Day Milovich
XVI+72 Hlm. BookpaperPenerbit: Indie Book Corner
Harga: Rp 34.900,- + ongkos kirim
karena keterbatasan cetak buku ini, sementara untuk cetakan perdana belum beredar di toko buku. untuk pembelian langsung di sini melalui penulisnya. Buku akan dikirim melalui Pos/ Tiki/ JNE.
Pembelian melalui transfer ke rekening:
BNI KC UNNES SEMARANG
No. Rek: 0113462356
a.n. ROZAQ TRIYANSYAH
*Dengan memesan ke penulisnya langsung, teman-teman akan mendapatkan tanda tangan saya membantu kelangsungan hidup penulis.
BNI KC UNNES SEMARANG
No. Rek: 0113462356
a.n. ROZAQ TRIYANSYAH
*Dengan memesan ke penulisnya langsung, teman-teman akan mendapatkan tanda tangan saya membantu kelangsungan hidup penulis.
pemesanan bisa melalui:
* FB: Yayan Triyansyah (http://www.facebook.com/triyansyahii1)
* twitter: @rozaqtriyansyah
* email: y. triyansyah@yahoo.com
Burung-burung Cahaya, Novel Sekel Jusuf AN
Burung-burung Cahaya
Novel Jusuf AN
penerbit Diva Press
Harga:
Setelah sukses dengan novel Jehenna, Jusuf AN kembali menampilkan sekuel dari novel tersebut. Jika dalam Jehenna, kisah yang menceritakan godaan jin, tokoh utamanya adalah Jehenna,novel Burung-burung Cahaya ini mengambil pola berbalik. Sebaiknya anda membacanya.
Al-Quran oleh setiap muslim diakui sebagai sesuatu yang agung. Sebutan-sebutan mulia selalu dikenakan pada kitab suci umat Islam itu. Pertanyaannya, sudahkah kaum muslimin memperlakukan kitab sucinya itu sebagaimna mestinya? Novel 'Burung-burung Cahaya' yang merupakan metafor untuk menggambarkan santri-santri Pondok pesantren al-Quran ini, mencoba memotivasi pembacanya ~khususnya yang beragama Islam~ untuk memperlakukan al-Quran sebagaimana seharusnya. Di samping itu, pembaca diajak berpikir tentang lika-likunya perjalanan menuju derajat kemuliaan di sisi Allah. Novel yang menarik dan menggelitik. (KH. A. Mustofa Bisri, Budayawan, Pengasuh Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin, Rembang)
Novel ini menguraikan secara detail berbagai anasir cerita mulai dari tema, peristiwa hingga konfilk dengan sangat hidup dan memikat. Sebuah novel yang mencoba mengangkat dunia pesantren dari sudut pandang lain, dengan cara yang lain pula. (Acep Zamzam Noor, penyair peraih penghargaan Sastra Asia Tenggara dan Khatulistiwa Award)
Pesantren tidak kalis pada persoalan manusia umumnya: cinta, harapan, dan ambisi untuk mendapatkannya. Ada niat mulia untuk menghapus kelam masa lalu, dan persahabatan yang terjalin liat seiring waktu. Jusuf memandang lengkap tiap warna yang merona di latar relijius itu. (Kurnia Effendi, Pecinta Sastra)http://www.facebook.com/photo.php?fbid=1562261861488&set=t.1615778708&type=1
Tembang Tolak Bala, Novel Han Gagas
TEMBANG TOLAK BALA
Novel Han Gagas
Penerbit Pustaka Sastra, LKis
Harga: 35.000
Teman2 ini cover novel saya. Novel yang banyak kekurangan. Moga awal Mei ini sdh edar di toko2. Gak apa-apa ya kutag pada kalian, moga sekedar promosi dan salam hormat saya buat anda. Maafkan saya jika tak memenuhi ekspektasi diantara kalian jika membaca nanti, atau maafkan saya yang jika pernah bekerjasama, saya kurang all out atau bertindak yang tidak berkenan di hati anda. Salam dari penulis yang terus belajar pada kalian. Oya, juga bisa pesan via inbox harga Rp. 35.000, terima kasih.
http://www.facebook.com/photo.php?fbid=1820789889862&set=t.1615778708&type=1
Sebait Pantun Bujang Antologi Puisi Agit Yosi Subandi
SEBAIT PANTUN BUJANG
Antologi puisi Agit Yosi Subandi
Harga: 30.000 (Tanpa Ongkos Kirim)
"Sebait pantun bujang" ini adalah buku kumpulan puisi pertama Agit Yogi Subandi. Bagi teman-teman yang ingin mendapatkan Kumpulan Puisi "Sebait Pantun Bujang" siahkan kirimkan alamat via inbox. Harga promo untuk pemesanan bulan Maret Rp 30.000 (tanpa ongkos kirim). tulis nama pengirim pada saat mentransfer di bank. dan apabila sudah mentransfer, segera konfirmasi ke Inbox Agit Yogi Subandi. untuk no rekening, silahkan hubungi FB Agit Yogi Subandi. Trims dan salam hangat selalu.
http://www.facebook.com/photo.php?fbid=147168318683251&set=t.1615778708&type=1
Antologi puisi Agit Yosi Subandi
Harga: 30.000 (Tanpa Ongkos Kirim)
"Sebait pantun bujang" ini adalah buku kumpulan puisi pertama Agit Yogi Subandi. Bagi teman-teman yang ingin mendapatkan Kumpulan Puisi "Sebait Pantun Bujang" siahkan kirimkan alamat via inbox. Harga promo untuk pemesanan bulan Maret Rp 30.000 (tanpa ongkos kirim). tulis nama pengirim pada saat mentransfer di bank. dan apabila sudah mentransfer, segera konfirmasi ke Inbox Agit Yogi Subandi. untuk no rekening, silahkan hubungi FB Agit Yogi Subandi. Trims dan salam hangat selalu.
http://www.facebook.com/photo.php?fbid=147168318683251&set=t.1615778708&type=1
Buku Baru, Puisi, Kritik Sastra, dan Cerpen yang Harus Anda Pesan Hari Ini Juga
Saya menawarkan buku-buku yang layak anda koleksi dan baca dalam minggu ini juga. Buku-buku yng saya rekomendasikan ini tanpa sponsor dari siapa pun. Anda bisa memesan langsung ke pengarangnya, atau lewat saya juga bisa (ada diskon untuk saya ya? haha). Buku ini akan terasa asyik dibaca sendiri maupun untik dikadokan pada seseorang.
Nah berikut lima buku yang harus segera anda pesan sekarang:
1.
SURAT DARI MATAHARI
Antologi Sajak Syaifuddin Gani
Cetakan ke-1, April 2011
100 hlm. 14 x 20,5 cm
Penerbit: Penerbitan antologi ini berkat kerja sama
HIMPUNAN SARJANA-KESUSASTRAAN INDONESIA (HISKI) KOMISARIAT SULAWESI TENGGARA
dengan PENERBIT PT KOMODO BOOKS
HARGA: Rp30.000.+ Ongkos Kirim
Perjalanan adalah ihwal penting dalam sajak-sajak Syaifuddin Gani. Dari dermaga satu ke dermaga lain, dari pulau ke pulau, ia hijrahkan dirinya. Ia percayakan nasibnya kepada keberangkatan, perjalanan, dan kepulangan. Dari segi makna referensial banyak sekali kota-kota, dan tempat-tempat yang disapa dalam sajak-sajaknya. Kota dan tempat-tempat itu tampaknya adalah tempattempat di mana diri Gani sendiri pernah menghijrahkan diri.
Untuk pemesanan silahkan kontak ke:
http://www.facebook.com/photo.php?fbid=1787687765132&set=t.1615778708&type=1
Nomor Rekening:
A.n Syaifuddin
0192-01-000134-53-1
BRI Cabang Kendari

2.
Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri
kumpulan Esai, karya Nurel Javissyarqi,
Cetakan Pertama, Mei 2011
Penerbit: PUstaka puJAngga dan SastraNESIA
Harga: 20.000-an + Ongkos Kirim
Tapi kemudian aku tersentak pada ungkapan Tardji: “Peran penyair menjadi unik, karena — sebagaimana Tuhan tidak bisa dimintakan pertanggunganjawaban atas ciptaannya, atas mimpinya, atas imajinasinya — secara ekstrim boleh dikatakan penyair tidak bisa dimintakan pertanggungjawaban atas ciptaannya, atas puisinya.”
Saat itu juga aku terusik, terseret ujaran yang biasa dalam masyarakat Jawa Timur: “Meski saya tidak rajin ibadah, melakukan dosa, jangan sekali-kali menghina agama saya, Tuhan saya, Nabi saya, keyakinan saya.” Letupan itu menjelma lembar-lembar yang kini terbukukan.
Untuk pemesanan silahkan kontak:
http://www.facebook.com/photo.php?fbid=1707755697820&set=at.1405715066993.2053079.1355886977.1615778708&type=1&ref=nf

3.
JATUH DARI CINTA
SISI LAIN DARI BENNY ARNAS! (Sebuah Novel)
230 HALAMAN
kertas isi: bookpaper + ivory full color
Penerbit: Grafindo
Cetakan Pertama, Mei 2011
Harga: Rp. 60.000,- (termasuk ongkos kirim)
Pemesanan ke
BCA LUBUKLINGGAU
0570438689
BENNY ARNAS.
Konfirmasi ke 081373534051
http://www.facebook.com/photo.php?fbid=1701279894940&set=at.1395418048585.2059310.1326224254.1615778708&type=1&ref=nf

4.
Manusia Utama
Antologi Puisi Y. Thendra BP.
harga Rp 30 ribu
luar Jogja + ongkos kirim Rp 10 ribu
Buku puisi "Manusia Utama" merupakan buku puisi tunggal kedua Y. Thendra BP yang memuat puisi doi 2006-2011. Buku puisi ini tanpa kata pengantar dan endorsement. Setiap orang boleh menulis puisi dan menyatakan dirinya sebagai "penyair" tanpa takut. Akan tetapi, tetap harus terbuka ruang diskusi cerdas, sehingga bisa dipilah mana yang "Puisi" dan mana pula pula yang "Puisi-puisian".
pemesanan:
085263631682
Email: thendra1980@gmail.com
Atau kirim ke inbox facebook Thendra Malako Sutan
http://www.facebook.com/photo.php?fbid=182899721760296&set=a.128159870567615.41333.100001208082668&type=1&ref=nf

5.
Tempurung Tengkurap
Buku sajak Mahatma Muhammad dan Yori Kayama
Tebal & Ukuran : xvii + 86 halaman, 140 mm x 210 mm
Penyelaras akhir : Damhuri Muhammad
Perancang sampul : Iksaka Banu
Tata letak : Hari Ambari
Penerbit : Penerbit Koekoesan
Harga : (Belum ditentukan)
Yori dan Atma, sebagian dari banyaknya orang muda sebaya saya yang memilih berproses di jalan kepenyairan. Buku puisi “TempurungTengkurap,” hadir sebagai bentuk kesungguhan mereka menyusuri jalan yang sudah mereka pilih itu
(Esha Tegar Putra, penyair)
Sajak-sajak Mahatma dan Yori ditulis lancar, enak dibaca dengan tema beragam. Agar seterusnya mantap memasuki ranah puisi, mereka harus lebih banyak membaca, diskusi dan terus menerus menulis tiada jenuh-jenuh.
(Taufiq Ismail, Penyair dan Pendiri Rumah Puisi)
Pemesanan:
http://www.facebook.com/photo.php?fbid=1307476183580&set=t.1615778708&type=1

Segera pesan, daparkan tanda tangan pengarangnya. Kadokan pada orang2 dekat anda.
Untukbuku-buku lainnya, akan diposting di:
http://pustakapelabuhan.blogspot.com/
silahkan rekomendasikan buku-buku anda. hehehe..
Selamat pagi, selamat membaca, selamat memesan.
Nah berikut lima buku yang harus segera anda pesan sekarang:
1.
SURAT DARI MATAHARI
Antologi Sajak Syaifuddin Gani
Cetakan ke-1, April 2011
100 hlm. 14 x 20,5 cm
Penerbit: Penerbitan antologi ini berkat kerja sama
HIMPUNAN SARJANA-KESUSASTRAAN INDONESIA (HISKI) KOMISARIAT SULAWESI TENGGARA
dengan PENERBIT PT KOMODO BOOKS
HARGA: Rp30.000.+ Ongkos Kirim
Perjalanan adalah ihwal penting dalam sajak-sajak Syaifuddin Gani. Dari dermaga satu ke dermaga lain, dari pulau ke pulau, ia hijrahkan dirinya. Ia percayakan nasibnya kepada keberangkatan, perjalanan, dan kepulangan. Dari segi makna referensial banyak sekali kota-kota, dan tempat-tempat yang disapa dalam sajak-sajaknya. Kota dan tempat-tempat itu tampaknya adalah tempattempat di mana diri Gani sendiri pernah menghijrahkan diri.
Untuk pemesanan silahkan kontak ke:
http://www.facebook.com/photo.php?fbid=1787687765132&set=t.1615778708&type=1
Nomor Rekening:
A.n Syaifuddin
0192-01-000134-53-1
BRI Cabang Kendari

http://www.facebook.com/photo.php?fbid=1787687765132&set=t.1615778708&type=1
2.
Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri
kumpulan Esai, karya Nurel Javissyarqi,
Cetakan Pertama, Mei 2011
Penerbit: PUstaka puJAngga dan SastraNESIA
Harga: 20.000-an + Ongkos Kirim
Tapi kemudian aku tersentak pada ungkapan Tardji: “Peran penyair menjadi unik, karena — sebagaimana Tuhan tidak bisa dimintakan pertanggunganjawaban atas ciptaannya, atas mimpinya, atas imajinasinya — secara ekstrim boleh dikatakan penyair tidak bisa dimintakan pertanggungjawaban atas ciptaannya, atas puisinya.”
Saat itu juga aku terusik, terseret ujaran yang biasa dalam masyarakat Jawa Timur: “Meski saya tidak rajin ibadah, melakukan dosa, jangan sekali-kali menghina agama saya, Tuhan saya, Nabi saya, keyakinan saya.” Letupan itu menjelma lembar-lembar yang kini terbukukan.
Untuk pemesanan silahkan kontak:
http://www.facebook.com/photo.php?fbid=1707755697820&set=at.1405715066993.2053079.1355886977.1615778708&type=1&ref=nf

http://www.facebook.com/photo.php?fbid=1707755697820&set=at.1405715066993.2053079.1355886977.1615778708&type=1&ref=nf
3.
JATUH DARI CINTA
SISI LAIN DARI BENNY ARNAS! (Sebuah Novel)
230 HALAMAN
kertas isi: bookpaper + ivory full color
Penerbit: Grafindo
Cetakan Pertama, Mei 2011
Harga: Rp. 60.000,- (termasuk ongkos kirim)
Pemesanan ke
BCA LUBUKLINGGAU
0570438689
BENNY ARNAS.
Konfirmasi ke 081373534051
http://www.facebook.com/photo.php?fbid=1701279894940&set=at.1395418048585.2059310.1326224254.1615778708&type=1&ref=nf

http://www.facebook.com/photo.php?fbid=1701279894940&set=at.1395418048585.2059310.1326224254.1615778708&type=1&ref=nf
4.
Manusia Utama
Antologi Puisi Y. Thendra BP.
harga Rp 30 ribu
luar Jogja + ongkos kirim Rp 10 ribu
Buku puisi "Manusia Utama" merupakan buku puisi tunggal kedua Y. Thendra BP yang memuat puisi doi 2006-2011. Buku puisi ini tanpa kata pengantar dan endorsement. Setiap orang boleh menulis puisi dan menyatakan dirinya sebagai "penyair" tanpa takut. Akan tetapi, tetap harus terbuka ruang diskusi cerdas, sehingga bisa dipilah mana yang "Puisi" dan mana pula pula yang "Puisi-puisian".
pemesanan:
085263631682
Email: thendra1980@gmail.com
Atau kirim ke inbox facebook Thendra Malako Sutan
http://www.facebook.com/photo.php?fbid=182899721760296&set=a.128159870567615.41333.100001208082668&type=1&ref=nf

http://www.facebook.com/photo.php?fbid=182899721760296&set=a.128159870567615.41333.100001208082668&type=1&ref=nf
5.
Tempurung Tengkurap
Buku sajak Mahatma Muhammad dan Yori Kayama
Tebal & Ukuran : xvii + 86 halaman, 140 mm x 210 mm
Penyelaras akhir : Damhuri Muhammad
Perancang sampul : Iksaka Banu
Tata letak : Hari Ambari
Penerbit : Penerbit Koekoesan
Harga : (Belum ditentukan)
Yori dan Atma, sebagian dari banyaknya orang muda sebaya saya yang memilih berproses di jalan kepenyairan. Buku puisi “TempurungTengkurap,” hadir sebagai bentuk kesungguhan mereka menyusuri jalan yang sudah mereka pilih itu
(Esha Tegar Putra, penyair)
Sajak-sajak Mahatma dan Yori ditulis lancar, enak dibaca dengan tema beragam. Agar seterusnya mantap memasuki ranah puisi, mereka harus lebih banyak membaca, diskusi dan terus menerus menulis tiada jenuh-jenuh.
(Taufiq Ismail, Penyair dan Pendiri Rumah Puisi)
Pemesanan:
http://www.facebook.com/photo.php?fbid=1307476183580&set=t.1615778708&type=1

http://www.facebook.com/photo.php?fbid=1307476183580&set=t.1615778708&type=1
Segera pesan, daparkan tanda tangan pengarangnya. Kadokan pada orang2 dekat anda.
Untukbuku-buku lainnya, akan diposting di:
http://pustakapelabuhan.blogspot.com/
silahkan rekomendasikan buku-buku anda. hehehe..
Selamat pagi, selamat membaca, selamat memesan.
Tuesday, November 4, 2008
ibumi

Sastra: "Aku" Dalam Dongeng dan Mitos
KONON, puisi Indonesia modern meniscayakan kehadirannya sebagai pergulatan ihwal bagaimana Aku merumuskan dirinya. Di situ, puisi dipercaya sebagai Aku yang hendak mengurai dirinya, keluar menyatakan kehadirannya sebagai individu yang otonom.Dalam pertumbuhan perpuisian Indonesia modern, pergulatan merumuskan Aku ditempuh dengan berbagai strategi kesadaran. Termasuk ketika penyair menghadapkan Aku ke dalam berbagai tradisi kisahan yang hidup dalam masyarakat primordialnya. Tak hanya folklor (legenda, cerita rakyat, dongeng, mitos), tetapi juga berbagai kisahan dalam kitab suci, kerap menjadi ruang tempat penyair melakukan epistemologi estetik dan epistemologi kesadaran untuk menghadirkan Aku.
Aku di situ adalah upaya penyair yang menafsir, mencari, dan menemukan kesadaran personalnya sebagai sebuah subjek otonom. Sejak masa Hamzah Fansuri, Amir Hamzah, Chairil Anwar, Rendra, Ajip Rosidi, Sapardi Djoko Damono, Saini KM, hingga beberapa generasi kepenyairan terkini, puisi Indonesia modern mencirikan salah satu kehadirannya pada pergulatan ihwal Aku yang mengambil inspirasi dari berbagai tradisi kisahan yang hidup dalam suatu masyarakat primodialnya.
Di lain sisi, menulis puisi demi menafsir sebuah tradisi kisahan yang ada di ranah folklor adalah ihwal bagaimana penyair bekerja mengolah kembali imajinasi yang telah tersedia sehingga seluruh simbolisasi dan metafora di dalamnya menghadirkan Aku yang otonom. Kerja menafsir menjadi peristiwa yang menarik dan menantang. Aku berada di antara pergulatan tarik-menarik antara ruang personal dan impersonal. Kematangan penyair dalam menafsir sebuah dongeng amat menentukan intensitas sampai sejauh mana Aku hadir dan merebut dirinya.
Kematangan seperti inilah yang dipertaruhkan oleh 19 penyair dalam 100 puisi yang termaktub dalam antologi Ibumi Kisah-kisah dari Tanah di Bawah Pelangi (I:boekoe: 2008). Antologi ini agaknya antologi tempat seluruh puisi di dalamnya ditulis mendasar pada tradisi kisahan yang ada di berbagai daerah di Indonesia, dari Aceh sampai Papua. Di situ, penyair bekerja dengan sejumlah batasan yang mesti patuh pada dongeng yang menjadi rujukannya. Setiap puisi merupakan tafsir penyair atas sebuah dongeng. Antologi ini lahir dari program penulisan "Puisi Kisah Nusantara" yang berlangsung sejak Januari 2007.
Membaca 100 dongeng yang telah menjelma menjadi puisi dalam antologi ini adalah membaca puisi itu sendiri, seraya diam-diam berupaya menatap sampai sejauh mana penyair mencari dan menemukan Aku di dalamnya. Aku yang menafsir dan memadatkan seluruh kisahan itu untuk menghadapkannya ke dalam gagasan kesadaran ihwal realitas hari ini, seraya dibayangi oleh semacam kecemasan bahwa puisi-puisi itu sesungguhnya tak bertutur apa pun selain hanya melakukan tekstualisasi seluruh keajaiban dan ketakjuban dari berbagai dongeng tersebut.
Penjelajahan
Tetapi, dengan dua puisi, "Rahim Darah" dan "Toba: Sepenggal Kesunyian" penyair Indrian Koto seolah menjanjikan bahwa antologi ini tidaklah dibayangi oleh kecemasan semacam itu. Menafsir cerita rakyat Aceh "Pocut Muhammad" dan membaurkannya dengan syair lagu yang dikutip dari album Krak yang diproduksi oleh Aceh Music, juga dialog yang dipungut dari film Tjoet Nyak Din, puisinya hadir dalam suasana heroisme yang tak terjebak menjadi perulangan-perulangan yang klise dan artifisial. Penyair ini mampu menemukan atau meletakkan sejumlah ungkapan dalam fokus yang diarahkan ke dalam realitas hari ini: waktu adalah dunia yang mengubur banyak siasat/.../dan Tuhan/untuk kebenaran siapa dia berpihak, sebenarnya?/ ("Rahim Darah"); cinta dan kesakitan mengembalikanku/kepada danau dan puncak gunung./kepada kesunyian yang paling murung ("Toba: Sepenggal Kesunyian").
Seterusnya antologi ini menghidangkan berbagai penjelajahan para penyair dalam khazanah folklor yang ada di Nusantara. Dalam penjelajahan itulah mereka sesungguhnya berada dalam relasi-relasi ketegangan dalam upaya mencari, merebut, dan menemukan Aku dalam ruang folklor yang komunal. Dongeng, legenda, dan cerita rakyat yang di sana-sini berhubungan dengan asal-muasal sebuah tempat, diperlakukan dengan berbagai kemungkinan eksplorasi tematiknya.
Satu hal yang menjadi pertanyaan adalah, sampai sejauh mana sesungguhnya penyair memasuki dan menenggelamkan dirinya ke dalam jagat pandangan dunia yang termaktub di balik berbagai tradisi kisahan masyarakat etnis lokal tersebut? Apakah folklor melulu hanya diperlakukan sebagai setting atau latar di mana Aku menyatakan dirinya tanpa berkorelasi dengan semua itu?
Umumnya kesadaran ihwal Aku dalam antologi ini bergerak di antara dua kemungkinan tersebut. Pada yang pertama, tafsir bekerja dengan intensitas yang diarahkan atau diinterpretasikan pada sudut tematik tertentu, seraya menegaskan sebuah sikap tafsir. Sebutlah "Pledoi Malinkundang" (Indrian Koto), "Pengakuan Suto" (AN Ismanto), beberapa sajak lainnya yang "merevitalisasi" kisahan-kisahan tradisional tersebut dengan strategi kesadaran yang berbeda.
Dalam "Pledoi Malinkundang" dan "Pengakuan Suto" kedua penyair meletakkan sudut dan fokus tematiknya dengan interpretasi dan sikap tafsir yang menyaran ke dalam konteks kekinian. Jika dalam "Pledoi Malin Kundang" Koto mengusung spirit tafsir ihwal makna kedurhakaan pada masa lalu dan pemaknaan waktu yang dimetaforakan pada sosok Ibu, maka pada "Pengakuan Suto" AN Ismanto yang merupakan tafsir atas legenda Kangjeng Ratu Kidul, gagasan yang mengemuka bertutur tentang hasrat kekuasaan dan realitas yang kaos. Sikap tafsir semacam ini juga terasa mengemuka dalam sajak "Di Hilir, Sajakku Menjelma Gadis Mimpi" (Komang Ira Puspitaningsih).
Sedangkan pada yang kedua, tafsir bekerja dengan membiarkan seluruh kisah terangkum, bahkan dalam beberapa sajak, ia nyaris menjadi naratif, tanpa sudut dan fokus yang dibidiknya. Sajak menghadirkan Aku yang nyaris hanya menjadi bagian dari narasi dan kisahan tradisi, tanpa lebih jauh menjadi Aku yang memandang dan menafsir dari konteks empiris yang berbeda.
Aku yang dirumuskan penyair dari berbagai khazanah lokal itu adalah Aku yang senantiasa memandang realitas, ketimbang Aku yang dipandang oleh realitas. Agaknya hal ini terjadi karena berbagai bentuk tradisi kisahan tersebut diperlakukan nyaris sebagai objek, benda mati yang dibedah penyair untuk mencari dan menemukan Aku. Kehadiran Aku bahkan terkesan lahir karena direbut, bukan ditemukan. (Ahda Imran)
diambil dari:
http://cabiklunik.blogspot.com/2008/05/sastra-aku-dalam-dongeng-dan-mitos.html
Wednesday, October 29, 2008
buku kawan
Judul: Bali Tanpa BaliPenulis: Ibed Surgana Yuga
Penerbit: Panakom Publishing & Komunitas Kertas Budaya
Cetakan Pertama: 2008
Tebal: xvi + 164 hal.
ISBN: 978-979-1108-10-2
Penerbit: Panakom Publishing & Komunitas Kertas Budaya
Cetakan Pertama: 2008
Tebal: xvi + 164 hal.
ISBN: 978-979-1108-10-2
Saya ingin memandang Bali …. Ah, jangan-jangan ini hanya kerinduan cengeng – sekaligus menjengkelkan – bagi orang seperti saya, yang terlempar atau melemparkan diri sejenak dari wilayah geografis Bali. Saya bisa saja sok-sokan bersikap, sambil berpretensi memandang Bali dari luar Bali, padahal jangan-jangan Bali sama sekali tidak meninggalkan segores bekas tipis pun dalam diri saya. Atau bisa jadi saya cemburu karena apa-apa yang menjadi "mainstream" di Bali tak mampu saya jangkau.
"Tajén", Orang Bali, "Calonarang"
Lalu orang Bali? Hanya menikmati kekalahan di antara gemuruh arena tajén (industri pariwisata Bali). Setelah menikmati hasil penjualan manuk-manuk, yang ternyata tak seberapa, orang Bali mulai merengek-rengek pada pihak penyelenggara tajén untuk bisa masuk ke sana lagi, menjadi pedagang asongan atau sekadar tukang pasang taji bagi manuk-manuk yang akan diadu. Orang Bali hanya menjadi abdi-abdi (untuk tidak menyebut "babu") yang – dengan senjata kain pel atau sapu – memberi service terbaik untuk kesuburan ruang-ruang kapitalis di natah orang Bali sendiri. Orang Bali kemudian memberhalakan ruang-ruang tersebut – ruang-ruang yang sebelumnya pernah mengalahkan mereka.
Lalu orang Bali? Hanya menikmati kekalahan di antara gemuruh arena tajén (industri pariwisata Bali). Setelah menikmati hasil penjualan manuk-manuk, yang ternyata tak seberapa, orang Bali mulai merengek-rengek pada pihak penyelenggara tajén untuk bisa masuk ke sana lagi, menjadi pedagang asongan atau sekadar tukang pasang taji bagi manuk-manuk yang akan diadu. Orang Bali hanya menjadi abdi-abdi (untuk tidak menyebut "babu") yang – dengan senjata kain pel atau sapu – memberi service terbaik untuk kesuburan ruang-ruang kapitalis di natah orang Bali sendiri. Orang Bali kemudian memberhalakan ruang-ruang tersebut – ruang-ruang yang sebelumnya pernah mengalahkan mereka.
Kisah Perlawanan (yang "Tunduk") terhadap Adat Bali
Pada beberapa sisi, hukum adat dalam konstruksi masyarakat tradisi Bali kadang sangat kejam pada krama adatnya sendiri, namun luluh ketika dihadapkan dengan dunia luar, apalagi pada modernisme yang membawa industrialisasi – dan iming-iming materialisme, tentunya – sebagai anak kandungnya. Inilah yang menjadi inti kisah ironis dari Incest. Desa adat dengan kekuatan massa serta para pemucuknya sangat patuh terhadap awig-awig adat yang berlaku, demi memproteksi berbagai sisi kehidupan serta keberlangsungan hidup yang sejahtera bagi krama adat, serta menjaga keluhuran dan keajegan adat itu sendiri. Kepatuhan tersebut termasuk pada hal-hal yang – menurut pola pemikiran "masa kini" – "tidak relevan" lagi. Tidak mengherankan jika adat sering kali terlihat begitu kejam dan "tidak relevan" ketika menjatuhkan berbagai macam sanksi terhadap para krama-nya yang dianggap melanggar atau melawan awig-awig.
"Méru" Satpam
Sejarah polemik tentang "pelecehan" terhadap simbol-simbol yang dianggap suci dalam wilayah budaya dan agama Hindu Bali telah terbentang lumayan panjang. Beberapa yang pernah saya dengar, di antaranya kasus foto bola golf di atas canangsari, album Manusia Setengah Dewa Iwan Fals, sinetron Angling Darma, film Opera Jawa Garin Nugroho, penggunaan nama dewa dalam beberapa merek kendaraan bermotor, dan sebagainya. Menanggapi polemik seperti ini, orang Bali sendiri ada yang pro dan kontra. Ada yang beranggapan bahwa "pelecehan" semacam ini perlu "diberantas" semuanya. Yang lain mengklaim wacana seperti ini terlalu "nyinyir", bahkan dianggap terlalu mengeksklusifkan budaya dan agama Hindu Bali dari pergaulan budaya dan agama lain.
Sejarah polemik tentang "pelecehan" terhadap simbol-simbol yang dianggap suci dalam wilayah budaya dan agama Hindu Bali telah terbentang lumayan panjang. Beberapa yang pernah saya dengar, di antaranya kasus foto bola golf di atas canangsari, album Manusia Setengah Dewa Iwan Fals, sinetron Angling Darma, film Opera Jawa Garin Nugroho, penggunaan nama dewa dalam beberapa merek kendaraan bermotor, dan sebagainya. Menanggapi polemik seperti ini, orang Bali sendiri ada yang pro dan kontra. Ada yang beranggapan bahwa "pelecehan" semacam ini perlu "diberantas" semuanya. Yang lain mengklaim wacana seperti ini terlalu "nyinyir", bahkan dianggap terlalu mengeksklusifkan budaya dan agama Hindu Bali dari pergaulan budaya dan agama lain.
Cenk Blonk sebagai Simbol
Eksplorasi yang dilakukan Cenk Blonk tentu saja memunculkan konsekuensi-konsekuensi tertentu, seperti "pengingkaran" terhadap pakem wayang kulit Bali. Dalam beberapa hal, rupanya Cenk Blonk memilih untuk mendobrak pakem-pakem tertentu guna meloloskan berbagai hasil eksplorasinya. Bagi saya, praktik "pengingkaran" pakem ini bukanlah perkara baru dalam ranah seni tradisi. Ini bahkan sering kali menjadi "keniscayaan" ketika sebuah genre seni berhadapan dengan produk-produk budaya lain yang menjadi tanda mutakhir zamannya. Di balik "pengingkaran" itu saya membaca suatu simbol bagi "pengingkaran pakem kehidupan" tradisi tertentu. Dalam tataran wacana, ini merupakan wacana bagi realita kehidupan aktual yang mesti "menengok kembali" berbagai "pakem kehidupan" yang telah mentradisi, di mana "pakem kehidupan" yang telah usang dan tidak relevan lagi bagi persaingan kehidupan kontemporer suatu zaman sudah waktunya untuk dimuseumkan atau diinterpretasi ulang. Ia hidup sebagai filter bagi pola laku dan pikir warisan tradisi, guna mengkonstruk lagi pola laku dan pikir yang up to date bagi zaman mutakhir.
Bahasa Bali yang Jauh
"Punapi gatra, Gus?" Duh! Tiba-tiba saya merasa asing dengan sapaan itu. Bukan saya tidak mengerti apa maksudnya. Tapi karena yang mengucapkannya adalah seorang teman akrab, walau telah beberapa tahun kami tidak berjumpa. Terhadap sapaan itu saya hanya menjawab, "Béh! Kéné-kéné dogén uli pidan. Sing taén berkembang." Ketika bertemu dan ia mengucapkan sapaan itu, saya merasa ada kadar yang berkurang pada keakraban persahabatan kami yang sudah bertahun-tahun berjalan. Padahal baru saja saya ingin menyambutnya dengan keakraban (baik dalam berbahasa maupun bersikap) yang biasa kami lakoni ketika sering bertemu dahulu. Percakapan demi percakapan terus berlangsung, dan ia tetap saja menggunakan basa Bali alus. Perlahan, bukan hanya kadar keakraban yang terasa memudar. Teman saya telah menjadi sosok asing di depan saya, seperti seseorang yang baru saja kenal dan entah datang dari mana.
"Nawegang antuk Linggih"
Dengan pemaknaan terhadap dua narasi sejarah yang berbeda (katakan saja demikian), keduanya memiliki dan mengamalkan pembenarannya masing-masing. Kedua narasi sejarah itu pun tak dapat dipisahkan dari eksistensi manusia Bali karena keduanya merupakan lintasan sejarah yang membangun manusia Bali sekarang, terlepas dari seberapa besar perannya masing-masing. Masalah muncul ketika ada laku "pengkultusan" terhadap salah satu sistem yang dilakoni guna meraih status tertentu dalam konstelasi kehidupan sosiokultural dan sosioreligius, yang mana status tersebut mengandung prestise tertentu pula.
Orang Jembrana
Kisah "orang-orang terbuang" dan perambahan hutan di atas menambah ketegasan bahwa karakter keras dan kuat memang dimiliki oleh orang Jembrana, yang secara kesejarahan merupakan endapan dari karakter orangorang yang dicap pembangkang, penentang, pembelot, pemberontak. Lalu ditambah lagi dengan ritual perambahan hutan dalam membuka lahan tempat tinggal dan pertanian yang harus dilakoni dengan mengalahkan keangkuhan pohon-pohon besar, menaklukkan kebuasan dan keliaran rimba, merebut Jimbarwana. Semuanya memerlukan karakter fisik dan jiwa yang keras dan bedu.
Kisah "orang-orang terbuang" dan perambahan hutan di atas menambah ketegasan bahwa karakter keras dan kuat memang dimiliki oleh orang Jembrana, yang secara kesejarahan merupakan endapan dari karakter orangorang yang dicap pembangkang, penentang, pembelot, pemberontak. Lalu ditambah lagi dengan ritual perambahan hutan dalam membuka lahan tempat tinggal dan pertanian yang harus dilakoni dengan mengalahkan keangkuhan pohon-pohon besar, menaklukkan kebuasan dan keliaran rimba, merebut Jimbarwana. Semuanya memerlukan karakter fisik dan jiwa yang keras dan bedu.
Bali Tanpa Eksotika
Namun, ketika orang luar Bali kemudian memasuki lingkungan budaya orang Bali, yang melakukan penilaian terhadap kosmologi Bali, dan mengutarakan hasil pandangan atau penilaiannya itu kepada orang dalam atau luar Bali, mulailah lahir "Bali yang eksotis". Salah satu realisasinya adalah berbagai narasi tentang Bali dalam brosur-brosur pariwisata di luar negeri serta berbagai karya etnografi. Orang Bali kemudian terpengaruh oleh penilaian ini. Dalam bahasa saya, orang Bali "disadarkan untuk menilai" laku budayanya sendiri melalui kacamata lain, bukan kacamata yang sebelumnya digunakan sebagai "orang dalam yang taat". Orang Bali "disadarkan" bahwa Bali memiliki eksotika. Di sisi lain, "kesadaran" ini digunakan oleh pihak tertentu di Bali untuk menyulut semacam sikap "kebalian" (identitas?) bagi orang Bali sendiri. Dan sebagaimana yang kita lihat sekarang, banyak orang Bali yang gegap gempita, bahkan sesumbar, dengan "kebalian"-nya.
Menengok "Paon"
Dari ketiga jenis kehilangan itu, yang paling tidak bisa "ditemukan" lagi adalah kehilangan secara kultural. Walau kemungkinannya masih bisa, namun manusia-manusianya yang telah berpikiran modern tentu akan menganggap itu sebagai suatu kemunduran peradaban, tidak efisien, dan sebagainya. Kehilangan secara kebendaan sebenarnya masih bisa "ditemukan" lagi lewat museum-museum atau kolektor barang antik atau dari tinggalan-tinggalan leluhur yang glantak-glénték tak terhiraukan. Sedangkan kehilangan secara historis masih bisa didengar lewat cerita-cerita para orang tua atau tulisan-tulisan. Hanya saja, sekali lagi, sejarah itu tidak teralami lagi. Lalu, apakah ini sebuah kesalahan? Apakah ini suatu sikap yang tidak menghargai dan melestarikan warisan nenek moyang? Saya selalu curiga terhadap klaim "tidak
menghargai" dan "tidak melestarikan" warisan nenek moyang. Jangan-jangan, anggapan ini lahir dari cara pandang yang keliru.
Dari ketiga jenis kehilangan itu, yang paling tidak bisa "ditemukan" lagi adalah kehilangan secara kultural. Walau kemungkinannya masih bisa, namun manusia-manusianya yang telah berpikiran modern tentu akan menganggap itu sebagai suatu kemunduran peradaban, tidak efisien, dan sebagainya. Kehilangan secara kebendaan sebenarnya masih bisa "ditemukan" lagi lewat museum-museum atau kolektor barang antik atau dari tinggalan-tinggalan leluhur yang glantak-glénték tak terhiraukan. Sedangkan kehilangan secara historis masih bisa didengar lewat cerita-cerita para orang tua atau tulisan-tulisan. Hanya saja, sekali lagi, sejarah itu tidak teralami lagi. Lalu, apakah ini sebuah kesalahan? Apakah ini suatu sikap yang tidak menghargai dan melestarikan warisan nenek moyang? Saya selalu curiga terhadap klaim "tidak
menghargai" dan "tidak melestarikan" warisan nenek moyang. Jangan-jangan, anggapan ini lahir dari cara pandang yang keliru.
Kolektivitas Cap "Suryak Siu"
Di Bali saat ini, praktik suryak siu bukan hanya terjadi dalam skala kecil seperti pada kasus yang saya contohkan di awal tulisan ini. Ia tidak hanya bergerak pada lingkungan banjar saja, namun telah menjadi semacam gerakan menyeluruh masyarakat Bali. Kita lihat misalnya sekarang ini di Bali berkembang sebuah wacana tentang konsep identitas kebalian yang disebut Ajeg Bali. Ajeg Bali ini muncul dari figur yang "patut digugu dan ditiru". Entah siapa figurnya. Media massa lokal yang sekarang berkembang di Bali adalah salah satu "kulkul" yang menyuarakan wacana ini, untuk kemudian dilaksanakan oleh krama "banjar" Bali. Maka, jadilah segalanya sesuatunya seakan dilakukan demi Ajeg Bali, tanpa penelusuran lebih jauh tentang konsep macam apa sebenarnya Ajeg Bali itu. Inilah salah satu perilaku suryak siu yang sekarang tengah berkumandang di Bali. Sebagaimana perilaku suryak siu yang saya contohkan di awal tulisan ini, suryak siu krama "banjar" Bali ini pun memiliki dua posisi paradoks.
Humor di Pentas Seni Bali
Seakan ada semacam "tata hierarki peran" yang diberlakukan dalam dunia pentas ini, bahwa yang berhak berhumor-ria, ngaé bebaudan, ndagel di atas panggung hanyalah tokoh parekan, yang notabene adalah wakil dari wong cilik. Tokoh lainnya, apalagi berasal dari kelas atas, harus tampil agung, berwibawa, serem, aéng, serius. Ini barangkali lahir dari kondisi sosial, terutama dalam konstruksi masyarakat berstratifikasi, bahwa kalangan atas harus selalu tampil santun, formal, menjaga sikap, menjaga prestise sebagai kelas masyarakat terhormat, sebagaimana pengamatan Clifford Geertz dalam Negara Teater. Sedangkan rakyat kecil boleh berbuat dan ngomong seenak wudel.
Upacara, Mitos, Bali
Upacara di Bali terus berkembang hingga sampai pada satu titik di mana ia diposisikan sebagai semacam kewajiban bagi umat Hindu Bali. Agamalah yang melembagakannya sehingga posisi wajib ini tercapai. Maka jadilah semacam peraturan mutlak tentang upacara. Hari ini harus diadakan upacara ini dengan sesajen ini dan mantra ini serta dilakukan oleh ini. Hal ini bukanlah masalah ketika telah didasari oleh kesadaran yang saya uraikan di atas. Namun ketika kewajiban itu hanya dipandang sebagai kewajiban semata, tanpa dirunut kenapa ia diwajibkan, maka muncullah mitos baru tentang upacara, yang kemudian menjelma menjadi dasar pelaksanaan upacara. Landasannya di sini bukan lagi kesadaran berupacara. Segalanya berjalan sebagai suatu rutinitas kosong yang tentu saja kemudian hanya menghambur-hamburkan uang. Inilah suatu bentuk kebutaan dalam berupacara, suatu rutinitas ritual tanpa pemaknaan.
Eksotika yang Ajeg
(Jejak Kuasa dalam Politik Kebudayaan)
Wacana Sela I Ngurah Suryawan
(Jejak Kuasa dalam Politik Kebudayaan)
Wacana Sela I Ngurah Suryawan
Beragam fenomena yang terjadi di Bali pasca Bom Bali I dan II seolah menyiratkan munculnya kembali rasa sentimen kedaerahan, dan dalam hal ini ke-Bali-an berdasarkan agama Hindu. Dasar sentimen itulah yang menjadi benih dari gerakan-gerakan fundamentalis, seperti juga yang terjadi dalam agama Islam, Kristen, dan lainnya. Terorisme sebagai cermin fundamentalisme yang identik dengan Islam kini menemukan konteks dan makna baru di Bali, yaitu "teorisme budaya" dalam bentuk Ajeg Bali dan Ajeg Hindu.
"Nak Bali Apa Sing Bisa Ngigel!"
"Orang Bali ya? Coba matanya digini-giniin," pinta seseorang kepada teman saya sambil menggerak-gerakkan bola matanya, bermaksud meniru sledétan penari Bali. "Saya enggak bisa nari," kata teman saya, seorang gadis Bali yang kini kuliah di Jogja. Lalu orang itu beralih pada saya. "Coba kamu," katanya meminta saya melakukan hal yang sama. "Saya lahir di Bali, tapi enggak bisa nari Bali," jawab saya. Orang itu terdiam sejenak. Ada keheranan di raut mukanya. Barangkali dalam hati ia berkata, "Kok ada, ya, orang Bali tidak bisa menari?"
"Orang Bali ya? Coba matanya digini-giniin," pinta seseorang kepada teman saya sambil menggerak-gerakkan bola matanya, bermaksud meniru sledétan penari Bali. "Saya enggak bisa nari," kata teman saya, seorang gadis Bali yang kini kuliah di Jogja. Lalu orang itu beralih pada saya. "Coba kamu," katanya meminta saya melakukan hal yang sama. "Saya lahir di Bali, tapi enggak bisa nari Bali," jawab saya. Orang itu terdiam sejenak. Ada keheranan di raut mukanya. Barangkali dalam hati ia berkata, "Kok ada, ya, orang Bali tidak bisa menari?"
Bali dan Tubuh Perempuan
Pada masa itu, figur perempuan Bali telanjang dada adalah gambaran dari kehidupan sosial pedesaan Bali. Barangkali kita bisa membaca bahwa di balik figur perempuan telanjang dada itu tercermin kepolosan, tradisi berbau tanah, kesederhanaan (atau penyikapan secara sederhana) budaya keseharian, atau bahkan kemiskinan (ekonomi). Mereka sangat jauh dari kebaya yang pada saat itu mulai dipandang sebagai salah satu bentuk kesopanan oleh kaum menengah ke atas yang mengenyam bangku sekolah. Dada perempuan ketika itu barangkali bukan suatu daya tarik seksual bagi laki-laki. Bukankah dengan demikian orang Bali zaman dulu bahkan lebih bisa menempatkan konteks seksual dalam kehidupan sehari-hari mereka? Telanjang bulat bersama di sungai barangkali bukan suatu suasana yang dapat menarik hasrat seksual.
Pada masa itu, figur perempuan Bali telanjang dada adalah gambaran dari kehidupan sosial pedesaan Bali. Barangkali kita bisa membaca bahwa di balik figur perempuan telanjang dada itu tercermin kepolosan, tradisi berbau tanah, kesederhanaan (atau penyikapan secara sederhana) budaya keseharian, atau bahkan kemiskinan (ekonomi). Mereka sangat jauh dari kebaya yang pada saat itu mulai dipandang sebagai salah satu bentuk kesopanan oleh kaum menengah ke atas yang mengenyam bangku sekolah. Dada perempuan ketika itu barangkali bukan suatu daya tarik seksual bagi laki-laki. Bukankah dengan demikian orang Bali zaman dulu bahkan lebih bisa menempatkan konteks seksual dalam kehidupan sehari-hari mereka? Telanjang bulat bersama di sungai barangkali bukan suatu suasana yang dapat menarik hasrat seksual.
Hari Raya yang Hilang
Ketika mulai tinggal di Jogja, tepatnya sejak pertengahan 2003, saya tidak punya hari raya lagi. Saya selalu bilang begitu pada teman-teman saya. Pernyataan ini memang ada nada bercanda, dan awalnya saya memang bermaksud bercanda. Namun sering kali teman-teman saya menanggapinya serius. Dan lebih sering lagi, saya sendiri yang menganggapnya serius karena bagaimana pun juga apa yang saya katakan itu, yang bagi beberapa orang yang taat agama adalah tabu, memang saya alami dan rasakan.
Menghidupi Seni Bali
Tidaklah mengherankan jika kemudian lahir masyarakat pendukung pada masing-masing produk seni. Dengan kata lain, muncul praktisi seni khusus untuk pariwisata, khusus festival, khusus partai politik tertentu dan sebagainya. Semuanya akan melahirkan kehidupan seni Bali yang spesifik, "produk seni kepentingan", yang – sekali lagi – lepas dari baik dan tidaknya kualitas masing-masing. Lalu, siapakah yang punya andil besar, siapakah yang berwenang, siapakah yang berjasa, siapakah yang idealnya menghidupi seni di Bali? Ternyata bukan jubelan pertanyaan ini yang mesti dijawab; namun untuk apa sebenarnya seni Bali dihidupi sekarang?
Dusun, Daun Pisang, HP
Mobil-mobil pick up itu masuk ke jalanan dusun yang sebelumnya belum tentu dijejaki ban mobil dalam sebulan sekali. Mereka "mengekspansi" dusun. Mereka merintis pengajaran "pengantar ilmu berdagang" kepada dusun. Mereka mengajarkan bagaimana persaingan pasar, bagaimana mengemas barang dagangan sehingga punya daya tawar – walau masih dalam taraf yang begitu sederhana. Mereka memberi "penyadaran" kepada orang dusun yang "terbelakang", bahwa di sekitarnya bergelimpangan berbagai potensi ekonomi yang seakan berebut mengacungkan tangannya, minta secepatnya diubah menjadi uang. Mereka mengajar dusun untuk mengukur segala sesuatunya dengan rupiah. Mereka mengajar dusun menjadi "materialistis".
Rare Angon
Ah, itu hanya sebuah dongeng. Barangkali ia tak perlu bahasan seruwet yang saya lakukan di atas. Dongeng hanya imajinasi dari ruang "dahulu kala" yang kabur. Hanya kisah pengantar tidur yang dipuja-puja ketika kanak-kanak, perlahan dilupakan ketika remaja, kadang dikenang ketika dewasa, dan tak pernah diceritakan lagi kepada cucu ketika usia tua. Dongeng adalah masa kanak-kanak yang penuh "kebohongan". Tapi, masa kanak-kanak kita belajar dari "kebohongan" itu – walau kemudian disangkal di masa-masa selanjutnya. Konon, "kebohongan" itu penuh dengan ajaran-ajaran tentang kebajikan. Di sana, dalam dongeng itu, kanak-kanak kita menjelajahi kompleksitas kehidupan melalui "dunia lain".
Telanjang
Budaya Bali, hingga sekarang, masih menyisakan karakter telanjang, baik secara fisik maupun filosofis. Perlu cara pandang tertentu untuk meniliknya. Kemiskinan dan iklim yang sering dijadikan asalan kenapa perempuan-perempuan Bali dahulu telanjang dada dalam kesehariannya agaknya harus dipandang dengan cara yang berbeda agar tak melulu berhenti pada taraf alasan. Kemiskinan dan iklim mestinya dipandang sebagai keniscayaan alam dan sosial yang kemudian membentuk konstruksi budaya Bali. Tak perlu ada semacam permakluman dalam hal ini. Sebab kalau memposisikannya sebagai permakluman, kita tengah terjebak ke dalam pengakuan bahwa telah terjadi kesalahan dalam proses panjang pembentukan budaya Bali. Sekali lagi, mesti diakui sebagai keniscayaan. Bukankah kita tidak pernah bisa memilih siapa ibu yang melahirkan kita?
Budaya Bali, hingga sekarang, masih menyisakan karakter telanjang, baik secara fisik maupun filosofis. Perlu cara pandang tertentu untuk meniliknya. Kemiskinan dan iklim yang sering dijadikan asalan kenapa perempuan-perempuan Bali dahulu telanjang dada dalam kesehariannya agaknya harus dipandang dengan cara yang berbeda agar tak melulu berhenti pada taraf alasan. Kemiskinan dan iklim mestinya dipandang sebagai keniscayaan alam dan sosial yang kemudian membentuk konstruksi budaya Bali. Tak perlu ada semacam permakluman dalam hal ini. Sebab kalau memposisikannya sebagai permakluman, kita tengah terjebak ke dalam pengakuan bahwa telah terjadi kesalahan dalam proses panjang pembentukan budaya Bali. Sekali lagi, mesti diakui sebagai keniscayaan. Bukankah kita tidak pernah bisa memilih siapa ibu yang melahirkan kita?
Pentas Itu Bernama "Tajén"
Dalam satu segi tajén punya persamaan dengan upacara-upacara yang dilakoni oleh orang Hindu Bali. Keduanya sama-sama merupakan "kesekejapan" yang teaterikal. "Kesekejapan" muncul ketika peristiwanya berlangsung, ketika eksekusinya. Sebagaimana menyiapkan sarana upacara, ayam jantan disiapkan dengan begitu tekun oleh bebotoh. Segalanya diperhitungkan dengan teliti: melik, kebugaran fisik, déwasa yang baik untuk mengadu, serta dengan ayam jago macam apa ia harus diadu, dan sebagainya. Pokoknya, bebotoh begitu meting-meting ayam jagonya agar bisa mapalu dengan tangkas di arena tajén. Hingga tiba saatnya ia diadu, dan hanya ada kemungkinan menang dan kalah. Setelah itu, selesai. Begitu sekejap. Peristiwanya tidak bisa diulang. Jika kalah, ia mati dan jadi bé cundang. Jika menang, ia harus dipersiapkan sedemikian rupa lagi, dengan perhitungan yang pelik, untuk menghadapi pertarungan selanjutnya. Tajén memang sebuah upacara.
Dalam satu segi tajén punya persamaan dengan upacara-upacara yang dilakoni oleh orang Hindu Bali. Keduanya sama-sama merupakan "kesekejapan" yang teaterikal. "Kesekejapan" muncul ketika peristiwanya berlangsung, ketika eksekusinya. Sebagaimana menyiapkan sarana upacara, ayam jantan disiapkan dengan begitu tekun oleh bebotoh. Segalanya diperhitungkan dengan teliti: melik, kebugaran fisik, déwasa yang baik untuk mengadu, serta dengan ayam jago macam apa ia harus diadu, dan sebagainya. Pokoknya, bebotoh begitu meting-meting ayam jagonya agar bisa mapalu dengan tangkas di arena tajén. Hingga tiba saatnya ia diadu, dan hanya ada kemungkinan menang dan kalah. Setelah itu, selesai. Begitu sekejap. Peristiwanya tidak bisa diulang. Jika kalah, ia mati dan jadi bé cundang. Jika menang, ia harus dipersiapkan sedemikian rupa lagi, dengan perhitungan yang pelik, untuk menghadapi pertarungan selanjutnya. Tajén memang sebuah upacara.
Memupuk Pohon Mitos
Justru semakin banyaknya orang yang berpikiran modern dan individualis itulah yang kian menyuburkan pohon mitos. Lahirnya berbagai interpretasi dari orang-orang yang berpikiran modern merupakan satu penyebab kerindangan tersendiri karena tidak pernah ada massa yang menyatakan persetujuan secara bersama terhadap hasil interpretasi itu. Ia (interpretasi itu) hanya menemukan persetujuannya dalam pola pikir interpretatornya sendiri. Inilah ciri pemikiran modern yang individualis. Interpretasi-interpretasi itu berkumpul jadi satu – tanpa menemukan banyak pendukung, dan jarang bisa disamakan – menciptakan kerindangan yang hebat pada pohon mitos. Hal ini belum lagi ditambah oleh penalaran fundamentalis terhadap mitos serta berbagai interpretasi yang menggunakan pemikiran di luar modern.
Nyepi Kampus
Nyepi Kampus barangkali meniru penyelenggaraan acara Dharma Santi Nasional yang biasanya diselenggarakan setelah Nyepi. Beberapa kali memang Nyepi Kampus di kampus saya membawa embel-embel "Dharma Santi Kampus". Apa tujuan penyelenggaraan Dharma Santi Nasional, yang biasanya dihadiri presiden dan pejabat negara lainnya itu, saya tidak tahu persis. Namun dalam sambutannya pada Dharma Santi Nasional dalam rangka Nyepi Saka 1929, Pak Presiden SBY menyatakan, Dharma Santi Nasional sebagai wujud silaturahmi umat Hindu bertujuan untuk memuliakan mahluk hidup dan meningkatkan kesetiakawanan sosial. Rupanya, 24 jam dalam Nyepi yang sepi di luar dan riuh di dalam itu belum cukup untuk sekadar mewujudkan kesadaran untuk bersilaturahmi, bahkan antarumat Hindu sendiri, sehingga acara seremonial (!) semacam Dharma Santi Nasional perlu diadakan. Dan acara seremonial yang melibatkan pejabat biasanya jauh dari jangkauan masyarakat biasa (baca: umat).
Nyepi Kampus barangkali meniru penyelenggaraan acara Dharma Santi Nasional yang biasanya diselenggarakan setelah Nyepi. Beberapa kali memang Nyepi Kampus di kampus saya membawa embel-embel "Dharma Santi Kampus". Apa tujuan penyelenggaraan Dharma Santi Nasional, yang biasanya dihadiri presiden dan pejabat negara lainnya itu, saya tidak tahu persis. Namun dalam sambutannya pada Dharma Santi Nasional dalam rangka Nyepi Saka 1929, Pak Presiden SBY menyatakan, Dharma Santi Nasional sebagai wujud silaturahmi umat Hindu bertujuan untuk memuliakan mahluk hidup dan meningkatkan kesetiakawanan sosial. Rupanya, 24 jam dalam Nyepi yang sepi di luar dan riuh di dalam itu belum cukup untuk sekadar mewujudkan kesadaran untuk bersilaturahmi, bahkan antarumat Hindu sendiri, sehingga acara seremonial (!) semacam Dharma Santi Nasional perlu diadakan. Dan acara seremonial yang melibatkan pejabat biasanya jauh dari jangkauan masyarakat biasa (baca: umat).
"Gesah" PKB
Pesta Kesenian Bali (PKB) tidak habis dibicarakan. Dan sepertinya akan selalu begitu. Pembicaraan tentangnya bukan sekadar warna atau bumbu di antara setiap tahun penyelenggaraannya, di antara sekian banyak macam kesenian yang dipestakannya. Kalau mau mempertahankan eksistensi PKB, salah satunya, ya, dia harus dibicarakan. Diwacanakan. Terus-menerus. Tidak peduli wacana yang positif atau negatif, membangun atau tidak, memuja atau memaki. Yang penting wacana, kritik, gesah. Dua macam wacana yang paradoks akan sama derajatnya dalam menunjang eksistensi PKB. Layaknya selebriti layar kaca, ia akan makin tenar dan dicari karena gemilang dalam bermain sinetron maupun gemilang dalam berselingkuh. Itulah ajaibnya dunia wacana. (Tapi ingat, PKB bukanlah pemain sinetron!)
PAST
Dalam hemat saya, keberadaan PAST di Jembrana pada satu sisi memikul tanggung jawab – walau secara formal tidak ada yang memberinya tanggung jawab – bagi terciptanya kehidupan yang kondusif bagi seni kontemporer pada umumnya, sastra dan teater pada khususnya. Jembrana – yang konon – sebagai salah satu barometer kehidupan sastra dan teater kontemporer di Bali mesti dibuktikan dalam tataran praksis, bukan hanya dalam wacana. Di sisi lain, ada semacam ketakutan eksistensial yang melingkupi PAST. Ia menjelma dari (bayang-bayang) narasi kebesaran masa lalu tentang eksistensi seni kontemporer (atau sering disebut: modern) yang pernah hidup di Jembrana. Ketakutan ini bisa jadi merupakan ketakutan menjadi kecil, hilang atau gagal menyambung tali dengan sejarah masa lalu. Wacana yang mencuat tentang kebesaran masa lalu, di samping merupakan pembuktian tentang akar yang kokoh, secara ironis sebenarnya juga menjadi retorika nostalgik di tengah kondisi mutakhir yang barangkali sedang tidak kondusif, mandeg, fakum atau mati suri.
Dalam hemat saya, keberadaan PAST di Jembrana pada satu sisi memikul tanggung jawab – walau secara formal tidak ada yang memberinya tanggung jawab – bagi terciptanya kehidupan yang kondusif bagi seni kontemporer pada umumnya, sastra dan teater pada khususnya. Jembrana – yang konon – sebagai salah satu barometer kehidupan sastra dan teater kontemporer di Bali mesti dibuktikan dalam tataran praksis, bukan hanya dalam wacana. Di sisi lain, ada semacam ketakutan eksistensial yang melingkupi PAST. Ia menjelma dari (bayang-bayang) narasi kebesaran masa lalu tentang eksistensi seni kontemporer (atau sering disebut: modern) yang pernah hidup di Jembrana. Ketakutan ini bisa jadi merupakan ketakutan menjadi kecil, hilang atau gagal menyambung tali dengan sejarah masa lalu. Wacana yang mencuat tentang kebesaran masa lalu, di samping merupakan pembuktian tentang akar yang kokoh, secara ironis sebenarnya juga menjadi retorika nostalgik di tengah kondisi mutakhir yang barangkali sedang tidak kondusif, mandeg, fakum atau mati suri.
Bali Tanpa Bali
Proyektor itu memantulkan gambar idoep ke selembar kain putih sekitar 2 X 3 meter yang tertempel di tembok. Frame demi frame gambar beringsutan selama kurang-lebih lima puluh menit di sana, mendongeng tentang hamparan sosiokultural sebuah wilayah di Bali. Namun di sana hampir tidak bisa ditemukan gambaran tentang Bali sebagaimana yang ditemui di televisi atau brosur pariwisata. Hanya beberapa detik saja melintas foto penari legong, figur gadis Bali tempo dulu yang telanjang dada, serta bangunan pura. Selebihnya adalah gambaran sepasang kerbau yang lari dengan beringas dalam makepung; tangkas para penabuh jegog; kendang raksasa dalam gamelan kendang mabarung; penari pencak silat yang berkostum mirip pemain stambul; penari leko yang sekilas tampak cuma meniru kostum penari legong; para nelayan Slam di daerah pesisir Jembrana; orang mengambil wudhu dan shalat; kebaktian di gereja yang diikuti para jemaah berpakaian adat Bali; khotbah pendeta ber-basa Bali alus, dengan beberapa kali ucapan puja kepada Sang Hyang Yesus Kristus; rumah panggung Melayu-Bugis; orang-orang yang berbicara dengan "bahasa aneh" – campuran bahasa Bali, Melayu dan Jawa; anak-anak muda latihan teater kontemporer dan musik puisi; berita-berita tentang berbagai kegiatan seni kontemporer; dan sebagainya yang jauh dari gambaran (stereotip) tentang Bali.
dikutip dari:http://ibedbilabali.blogspot.com/search/label/buku
Proyektor itu memantulkan gambar idoep ke selembar kain putih sekitar 2 X 3 meter yang tertempel di tembok. Frame demi frame gambar beringsutan selama kurang-lebih lima puluh menit di sana, mendongeng tentang hamparan sosiokultural sebuah wilayah di Bali. Namun di sana hampir tidak bisa ditemukan gambaran tentang Bali sebagaimana yang ditemui di televisi atau brosur pariwisata. Hanya beberapa detik saja melintas foto penari legong, figur gadis Bali tempo dulu yang telanjang dada, serta bangunan pura. Selebihnya adalah gambaran sepasang kerbau yang lari dengan beringas dalam makepung; tangkas para penabuh jegog; kendang raksasa dalam gamelan kendang mabarung; penari pencak silat yang berkostum mirip pemain stambul; penari leko yang sekilas tampak cuma meniru kostum penari legong; para nelayan Slam di daerah pesisir Jembrana; orang mengambil wudhu dan shalat; kebaktian di gereja yang diikuti para jemaah berpakaian adat Bali; khotbah pendeta ber-basa Bali alus, dengan beberapa kali ucapan puja kepada Sang Hyang Yesus Kristus; rumah panggung Melayu-Bugis; orang-orang yang berbicara dengan "bahasa aneh" – campuran bahasa Bali, Melayu dan Jawa; anak-anak muda latihan teater kontemporer dan musik puisi; berita-berita tentang berbagai kegiatan seni kontemporer; dan sebagainya yang jauh dari gambaran (stereotip) tentang Bali.
dikutip dari:http://ibedbilabali.blogspot.com/search/label/buku
Tuesday, October 28, 2008
kalau aku menulis kayak gini ada yang berkunjung gak ya??
perkosa, enak, nikmat, jorok, porno, saru, kasar, gila,
adik, tente, ponakan, mama, papa, semua baik-baik saja, baik, sehat.
tetangga, teman, cewek, sma, lugu, gratis, banyak banget deh
gadis, janda, pembantu, tukang kebun, satpam, semua manusia lo.
2935 pengunjung hari ini.
tambah lagi nih:
enak, ooh..!!, aku jatuh. aku gak tahan, pegel nih berdiri terus. basah nik, ujan-ujanan.
liar banget nih imajinasi. masukin.. dong motornya... pelan-pelan dong jalannya...
kakak iparku orangnya baik. sepupuku banyak banget. kisah-kisah incest (inses) masa sih ada?
perawan. dijilat dong es krimnya.
bla.. bla.. bla..
susah banget sih mancing orang biar baca blog ini...
adik, tente, ponakan, mama, papa, semua baik-baik saja, baik, sehat.
tetangga, teman, cewek, sma, lugu, gratis, banyak banget deh
gadis, janda, pembantu, tukang kebun, satpam, semua manusia lo.
2935 pengunjung hari ini.
tambah lagi nih:
enak, ooh..!!, aku jatuh. aku gak tahan, pegel nih berdiri terus. basah nik, ujan-ujanan.
liar banget nih imajinasi. masukin.. dong motornya... pelan-pelan dong jalannya...
kakak iparku orangnya baik. sepupuku banyak banget. kisah-kisah incest (inses) masa sih ada?
perawan. dijilat dong es krimnya.
bla.. bla.. bla..
susah banget sih mancing orang biar baca blog ini...
Subscribe to:
Posts (Atom)







